HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
FOKUS
Profil Pendidikan

6 Kelas SDN Kunciran Tanpa Meja dan Bangku




indosiar.com, Tangerang
- Di Tangerang, Banten, ratusan siswa Sekolah Dasar Negeri Kunciran 7 kini harus mengikuti proses belajar mengajar dalam kondisi lesehan. Mengingat dari 11 ruang kelas, hanya 5 ruang kelas yang dilengkapi meja dan kursi untuk para siswa.

Kondisi belajar mengajar seperti ini terjadi di SDN Kunciran 7 Pinang Kota Tangerang, Banten. Disalah satu sekolah unggulan di kota Tangerang ini, sekitar 250 siswa terpaksa belajar tanpa menggunakan meja dan bangku sejak memasuki tahun ajaran baru.

Kondisi ini tentu saja sangat kontras dengan cita-cita kota Tangerang sebagai Kota Pendidikan. Proses belajar mengajar secara lesehan ini membuat situasi belajar kurang optimal. Selain itu para siswa juga rentan terserang penyakit.

Pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Tangerang diharapkan segera merealisasikan pengadaan meja dan bangku di sekolah yang dibangun dengan menelan anggaran 1 miliar rupiah lebih tersebut. Di SDN Kunciran 7 dari 11 ruang kelas, baru 5 ruang kelas yang sudah memiliki kursi dan meja, sementara 6 ruang kelas lain masih kosong. (Mas'ud Ibnu Samsuri/Sup)

Bookmark and Share


Page: 1
16-Apr-2012 06:20:06 WIB by JAMAL HENDRAWAN
kalo mau jelekin nama sekolah jangan nama SSDN KUNCIRAN 07
2-Aug-2009 21:44:10 WIB by hartoyo
Dua anak saya sekolah di SD ini, bukan hanya bangku dan kursi yang ada. Tapi juga uang buku persemester sekolah SDN 07 Kunciran sangat mahal, hampir mendekati Rp 500.000,- per anak per semester. Bayangkan jika dua atau tiga anak sudah mencapai Rp 1 - 1,5 juta , betapa berat menyekolahkan anak di sekolah dasar - bagaimana nanti kalau smp atau sma. Wah benar2 berlawanan dan sangat jauh dengan DKI jakarta, yang notabene sebagian besar masyarakatnya lebih mampu ekonominya di banding daerah tangerang, justru lebih murah biaya pendidikan untuk SDN dan SMPN.

Apakah hak untuk mengenyam pendidikan hanya untuk daerah DKI saja, bagaimana dengan propinsi lainnya. Saya juga tidak tahu mau kemana arah dunia pendidikan kita ini. Belum lagi dengan masalah ijasah guru (Keguruan) yang banyak palsu atau sekolah keguruan formalitas hanya sekedar mendapat ijazah untuk mengejar guru peg. neg. Wajar kalau dunia menilai dunia pendidikan Indonesia sangat underdog, karena memang realita pendidikan sudah menjadi ajang profit bisnis. Dan perlu dipertanyakan lagi (evaluasi) bahwa : pendidikan itu mencerdaskan kehidupan bangsa ...?????


Salam prihatin untuk dunia pendidikan Indonesia,

 

Nama:
Email:
Security Code: