indosiar.com, Karanganyar -
Upacara melasti dan mendhak tirta adalah upacara membersihkan diri dan peralatan beribadah, dari segala kekotoran untuk mengikuti Nyepi. Ratusan umat Hindu di Ngargoyoso, berkumpul di Pura Tunggal Ika yang ada di desa Kemuning. Mereka menaikkan doa dan memohon ijin, kepada yang kuasa untuk membersihkan alat-alat sembahyang.
Usai prosesi doa, mereka bersama-sama berjalan menuju ke sumber air di Gondangrejo, sekitar satu kilometer dari pura. Pinandita dan umat berjalan, sambil membawa daksino serta pejati, dan rangkaian sesaji. Tak lupa pula peralatan sembahyang dan pratima, atau arca yang biasa dipuja di pura, diiringi payung dan panji-panji. Prosersi tersebut, bertujuan melebur segala kekotoran, baik yang merusak pikiran, perkataan maupun perbuatan.
Sebagai rangkaian prosesi menjelang perayaan Nyepi, ribuan ummat Hindu di Bali, beramai ramai mendatangi pantai untuk melakukan melasti. Selain sebagai langkah pensucian diri jelang Nyepi, prosesi ritual juga dilakukan untuk mensucikan segala benda sakral milik pura, yakni pratima, sebagai simbol dewa ummat Hindu, Bali.
Upacara melasti digelar seluruh ummat Hindu di Bali, selama tiga hari menjelang hari raya Nyepi, mulai Sabtu pagi hingga Senin sore, sebelum terbenamnya matahari, pada malam menjelang Nyepi.
Bertepatan dengan perayaan hari raya Nyepi, bandara internasional dan seluruh pelabuhan di Bali, yaitu Pelabuhan Padang Bai, Gilimanuk dan Benoa akan ditutup selama 24 jam. Penutupan Bandara Ngurah Rai Bali dilakukan pihak Angkasapura I Bali selama 24 jam, mulai Selasa pagi tepat pukul 06.00 WITA sampai Rabu tanggal 17 Maret, pukul 06.oo WITA. Penutupan pelayanan 220 penerbangan komersil tersebut untuk menjaga kekhidmatan, warga Bali, dalam menjalankan tapa bratha penyepian, selama sehari penuh, saat Nyepi nanti.
Pihak bandara hanya akan melakukan pelayanan pada keadaan darurat, emergency flight, bagi pesawat yang mengalami kerusakan dan mengalami pendaratan darurat. (Tim Liputan/Sup)