HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
FOKUS
Bahasan Utama

Paket Bom, Benarkan Untuk Pengalihan Isu ?



indosiar.com, Jakarta - Paket buku berisi bom yang dikirimkan ke tiga tempat terpisah di Jakarta, Selasa (15/02/11) lalu, menyisakan tanda tanya besar di masyarakat. Baik terkait siapa pelaku dan motif aksi  pengiriman bom rakitan ini. Bahkan sejumlah kalangan menduga, paket berisi bom ini sebagai upaya pengalihan perhatian atas isu politik di tanah air. Lalu siapa sesungguhnya pelaku teror bom, yang  menyebabkan dua perwira polisi terluka, saat berupaya menjinakkan bom tersebut.

Paket buku berisi bom rakitan yang dikirim ketiga tempat terpisah di Jakarta, Selasa lalu, membuat sibuk sejumlah pihak. Bukan hanya aparat kepolisian, tapi juga semua pihak yang terkait. Bahkan di tempat  yang menjadi sasaran pengiriman bom, kini mendapat penjagaan ekstra ketat dari aparat kepolisian.

Di komplek kantor berita Radio 68H, dikawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, polisi masih memasang garis polisi, untuk membatasi keluar masuknya orang. Polisi juga melakukan olah peristiwa di tempat kejadian  perkara, untuk melacak jejak pelaku dan motif dibalik aksi pengiriman paket bom, yang sempat meledak  dan mencederai dua orang pewira polisi, saat mereka berusaha menjinakkan bom.

Penjagaan ketat juga diberlakukan di gedung Badan Narkotika Nasional atau BNN, yang juga menjadi sasaran pengiriman paket bom. Bahkan seluruh karyawan BNN harus melewati pemeriksaan ekstra ketat. Polisi juga telah melakukan olah peristiwa di TKP.

Sementara di rumah Yapto Sursosumarno, di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, juga terlihat penjagaan  dari sejumlah pemuda bersama aparat kepolisian. Namun  lokasi rumah Yapto sendiri tertutup dari liputan media massa.

Bagaimanakah hasil olah peristiwa di  tiga tempat kejadian  perkara, yang dilakukan  aparat kepolisian?.   Adakah keterkaitan ketiga bom yang dikirim ke tiga tempat terpisah. Kabareskrim Mabes Polri, Komjen  Polisi Ito Sumardi menegaskan, hingga saat ini pihaknya belum bisa memastikan, siapa pengirim bom dan  motif di balik aksi ini. 

Namun demikian, polisi sudah mengetahui ciri-ciri kurir yang mengirimkan bom di tiga tempat tersebut.  Polisi berharap orang termaksud mau bekerjasama dengan polisi untuk mengungkap pemilik paket bom  yang memiliki ciri dan kemasan yang sama.

Sementara bagi Ulil Abshar Abdala, teror bom yang dialamatkan kepada dirinya, tidak sedikit pun  membuatnya takut. Ulil bahkan menyempatkan melihat langsung tempat meledaknya bom di komplek  komunitas Utan Kayu, yang merupakan tempatnya beraktivitas pada empat tahun silam. Bahkan dalam kesempatan ini, Ulil kembali menegaskan keyakinannya, bahwa teror bom terhadap dirinya bermotif politik yang dikemas dalam simbol-simbol agama dan kelompok tertentu. 

Namun keyakinan Ulil ini diragukan rekan Ulil yang juga aktivis Jaringan Islam Liberal, Luthfi Asyaukani.  Menurut Luthfi, motif teror bom ini sangat kompleks. Tidak hanya karena kepentingan politik, tapi juga ada unsur kebencian terhadap kebebasan beragama dan HAM.

Sementara menurut ketua Lembaga Kajian Syariat Islam, (LKSI), yang juga mantan aktivis Majelis Mujahidin Indonesia, Fauzan Al Anshari, teror bom tersebut merupakan upaya pengalihan isu korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di Indonesia, seperti dirilis Wikileaks.

Benarkah teror bom ini sebagai upaya pengalihan isu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, melalui juru bicaranya,Julian Aldrin Pasha membantah  tudingan ini.

Terlepas dari polemik di masyarakat terkait pelaku dan motif aksi pengiriman paket buku berisi bom, polisi  terus bekerja keras untuk mengungkap siapa pelaku sebenarnya. Bahkan polisi juga sudah memastikan,  pengirim bom bernama Sulaeman Azhar yang beralamat di Jalan Bahagia, Gang Panser Nomor 29 Ciomas, Bogor, adalah alamat palsu. Penghuni alamat tersebut tercatat bernama Rodiah Ginting. 

Tentu saja,  temuan ini kian membuktikan bahwa pelaku teror bom adalah orang yang terlatih. Dan menghadapi orang atau kelompok terlatih, tentu saja perlu kecermatan dan keahlian. Sehingga apa yang diharapkan masyarakat, yakni  terungkapnya pelaku teror  bom dan motif di balik aksinya, benar-benar bisa terwujud. (Tim Liputan/Sup)

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code: