HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
FOKUS

Ancaman DBD

Alat Fogging Nyamuk Diserbu Pembeli



indosiar.com, Jakarta - Siapa bilang upaya fogging/pengasapan hanya bisa dilakukan aparat Pemda atau instansi berkait. Anda atau siapapun bisa melakukannya terutama dengan beredarnya berbagai jenis, ukuran dan type alat fogging dipasaran. Tapi tentu saja dibutuhkan dana lumayan besar. Menyangkut harga alat fogging lumayan mahal mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Sejak wabah penyakit demam berdarah dengeu merebak alat fogging atau pengasapan untuk memberantas nyamuk ramai dicari warga. Para supplier alat fogging dipusat pertokoan Glodok di Jakarta Barat mengaku selama bulan April ini permintaan alat fogging meningkat.

Permintaan tak hanya datang dari instansi Pemerintah ataupun perusahaan swasta, tapi juga dari kalangan rumah tangga. Mini fogging seperti ini banyak dicari kalangan rumah tangga. Harga yang ditawarkan tidak murah yakni 575.000 rupiah perbuah. Lain lagi alat fogging besar ini harganya jauh lebih mahal.

Swinfog buatan Jerman ini misalnya harganya mencapai 14.000.000 rupiah perbuah. Sementara produksi Korea ini jauh lebih murah yakni seharga 4.500.000 rupiah. Alat fogging besar ini kebanyakan dipakai di Kelurahan - kelurahan untuk penyemprotan massal instansi Pemerintah dan perusahaan - perusahaan. 

Harga yang mahal seolah tidak menjadi halangan, asal bisa terbebas dari wabah demam berdarah. Untuk menggunakan alat fogging nyamuk ini terlebih dahulu masukan obat insektisida bersama bahan bakar solar yang takarannya disesuaikan dengan kebutuhan.

Untuk membuat campuran obat fogging untuk 1 kali penyemprotan diareal 100 meter persegi dibutuhkan 1,6 liter cynof dengan campuran solar sebanyak 40 liter. Bila menggunakan obat insektisida vendona dipakai 0,3 liter dengan campuran solar 40  liter. Insektisida cynof biasanya banyak dipakai karena tidak terlalu mengandung bau yang pekat. (Nancy Erene/Heri Gemita/Dv).

Bookmark and Share