HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
FOKUS

Aliran Sesat, Kembali Membuat Resah Warga



indosiar.com, Jakarta -  Aliran sesat yang mengatasnamakan Islam terus bermunculan dan membuat resah warga karena ajarannya jelas-jelas bertentanngan dengan ajaran Islam. Di Polewari, Mandar, Sulawesi Barat, seorang lelaki bernama Syamsudin dibekuk polisi karena mengaku sebagai Nabi Haidir dan tidak mengharuskan pengikutnya melakukan ibadah sholat. Di Cirebon, Jawa Barat, muncul dua aliran sejenis Surga Eden dan Hidup Dalam Hidup. Sementara di Situbondo muncul aliran bernama Brayat Agung.

Pertengahan Januari lalu ratusan warga Desa Arga Sunya, Kecamatan Harja Mukti, Cirebon, Jawa Barat, mendatangi sebuah tempat rumah seorang warga bernama Ahmad Tantowi. Warga datang dengan kemarahannya karena Tantowi mengaku sebagai nabi. Dan lewat ajarannya, Surga Aden, ia boleh meniduri istri pengikutnya, demikian menurut warga ini.

Warga mengaku kesal bukan saja karena ajarannya dianggap menyimpang dari Islam, tapi juga tindakan-tindakan cabulnya dianggap telah mencemarkan daerah mereka. Hari itu Tantowi tak mereka temukan, karena memang sudah keburu diselamatkan polisi. Keesokan harinya, bersamaan dengan kehadiran polisi, ia mencari bukti tambahan, warga dan beberapa anggota ormas Islam datang dan melongok kedalam rumah Tantowi di Desa Pamengkang, Kecamatan Mundu, masih di wilayah Cirebon, Jawa Barat.

Dua bulan sebelum ditangkap, Ahmad Tantowi sempat ditemui wartawan dan membantah semua tuduhan warga terutama bahwa dia mengajarkan aliran sesat. Munculnya aliran baru dan dituding sesat tidak hanya di Cirebon.

Pada waktu hampir bersamaan, pertengahan Januari lalu, warga sebuah desa Situbondo, Jawa Timur pun dibuat resah oleh hadirnya aliran baru bernama Brayat Agung. Sama seperti aliran Surga Edennya Tantowi, aliran Brayat Agung juga tak menganjurkan sholat, bahkan melarang pengikutnya melaksanakan ibadah itu juga ibadah puasa. Warga minta aparat menindak pemimpin dan pengikut aliran ini.

Mengapa sering muncul aliran sesat? atau tepatnya aliran menyimpang ditengah masyarakat kita. Benarkah karena kita semua tidak peduli atau pemuka agama kita yang lalai melakukan pembinaan, atau justru pemerintah yang lemah dalam melakukan pengawasan. Baru bertindak setelah menimbulkan keresahan.

Kita tentu belum lupa dengan Ahmad Musadeq yang hadir dengan alirannya Al-qiyadah al islamiah pada 4 tahun yang lalu. Atau dengan Lia Aminudin yang muncul dengan nama Lia Eden, setahun sebelumnya. Mereka semua mengaku menerima wahyu dari Tuhan, lalu kemudian mentasbihkan diri sebagai nabi, atau yang dilakukan Lia Aminudin mengaku sebagai Malaikat Jibril. Atau juga yang pernah menghebohkan masyarakat Bandung, Jawa Barat dengan kemunculan sekelompok warga yang mengaku sebagai pengikut Sekte Hari Kiamat, 7 tahun yang lalu.

Banyak diantara kita yang pada awalnya menganggap angin lalu kehadiran mereka, bahkan mencibir dan baru terkejut ketika mendapati banyak orangtua yang anaknya hilang atau bertingkah aneh dalam beribadah. Kehadiran aliran-aliran menyimpang itu terus terjadi karena masyarakat kita memang cenderung tidak peduli. Menganggapnya angin lalu dan menilai pemimpinnya hanya mencari sensasi, berpikiran aneh lalu puas dan menganggap masalahnya selesai, setelah yang bersangkutan ditangkap.

Model-model penistaan seperti itu menurut para ulama bisa dicegah jika kita anggota masyarakat merespon cepat jika mendapati gejala kelainan paham itu. Karena seperti dikatakan Amin Jamaluddin, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam, aliran Surga Eden di Cirebon itu muncul dan berkembang karena masyarakat setempat yang awalnya hanya mendiamkan, padahal jelas-jelas alirannya menyimpang dari ajaran Islam.

Menurut Ridwan, tokoh masyarakat, memang urusan ini tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah. Dalam arti, masyarakat juga harus ikut berperan. Tapi fakta di lapangan menunjukkan, kasus-kasus seperti ini bisa diketahui lebih karena masyarakatlah yang merespon dan pemerintah baru bertindak setelah keresahan warga memuncak menjadi keributan mengarah tindakan anarkis.

Mestinya menurut Ridwan dan Amin Jamaluddin, pemerintah harus ada program pembinaan jelas dan kongkrit, agar mereka yang tersesat menyimpang dari syarikat rukun Islam dilakukan penyadaran. Peran inilah yang diharapkan dari pemerintah. (Tim Liputan/Sup)

 

Bookmark and Share


Page: 1
7-Jul-2011 10:32:01 WIB by syafrizal
mencari kebenaran tetapi bukan sebenarnya yang didapat
5-Feb-2010 19:29:06 WIB by Moh. Sitoh Anang
Mohon info dan foto dokumen tentang aliran mahaesa kurung yg ditayangkan difokus siang tanggal 5 Februari 2010, karena ada tampilan foto yang diduga anggota keluarga saya yang mengikuti aliran tersebut demi kebaikan keluarga saya, terima kasih....

 

Nama:
Email:
Security Code: