indosiar.com, Jakarta - Sehari menjelang datangnya bulan ramadhan, daging sapi di pasar-pasar tradisional di sejumlah daerah, mengalami kenaikan cukup tajam. Di Banda Aceh misalnya, harga daging sapi bisa mencapai 100 ribu rupiah per kilogramnya. Kenaikan ini terjadi menyusul akan datangnya bulan ramadhan. Bagaimana dengan harga di Jakarta termasuk harga kebutuhan pokok pangan yang lain, menjelang bulan ramadhan kali ini?.
Seperti biasa, mendekati datangnya bulan ramadhan, harga daging sapi melonjak tajam dari biasa, karena tingginya permintaan masyarakat. Tahun inipun terjadi. Hasil pantauan di beberapa pasar tradisional di Jakarta tiga hari terakhir, harga daging sapi terus naik. Daging has bahkan sudah mencapai harga 75 ribu rupiah perkilogram.
Kenaikan harga daging juga terjadi di sejumlah daerah. Di Karawang Jawa Barat, harga daging sapi sudah dua hari ini naik 3 ribu rupiah, sehingga menjadi 58 ribu rupiah perkilogram. Bagi pedagang, kenaikan seperti ini sudah biasa setiap menjelang ramadhan.
Di Sleman Yogyakarta, harga daging juga naik, dan hasil pantauan kemarin sudah mencapai 60 ribu rupiah per kilogram, naik 3 ribu rupiah dari harga sebelumnya. Yang gila-gilaan justru terjadi di Banda Aceh. Pada hari pertama pemotongan ternak atau oleh masyarakat setempat disebut hari meugang kemarin, harga daging sapi terus naik bahkan mencapai angka 100 ribu rupiah perkilogramnya.
Meningkatnya permintaan daging di masyarakat, tak jarang dimanfaatkan pedagang nakal, seperti yang terjadi dan menjadi kehebohan pada dua tahun terakhir, di mana banyak ditemui daging tak layak makan. Baik karena merupakan daging tiren atau karena daging gelonggongan, di mana hewannya dicekoki air sebelum disembelih, dan membuat daging tak lagi sehat karena banyak mengandung air.
Mencegah hal itulah, petugas instansi terkait menggencarkan sidak ke pasar-pasar daging, seperti yang dilakukan Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Timur ini. Dengan membawa alat pengujian, semua daging yang dijual pedagang diperiksa, baik kesegaran, warna maupun lemaknya.
Sidak ke pasar daging juga dilakukan Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat, diantaranya dengan memantau penjualan daging di Pasar Puri dan Pasar Slipi. Razia daging di pasar juga berlangsung di daerah. Pemerintah setempat tidak mau lagi kecolongan. Mereka meninjau ke pasar daging dan memeriksa langsung daging yang dijual pedagang. Di Pasar Kediri Jawa Timur, setelah melakukan pemeriksaan di tempat dengan alat yang mereka bawa, pihak dinas perikanan dan peternakan setempat menemukan daging yang tak layak dimakan, dijual pedagang.
Di Jawa Barat, razia dipasar daging juga dilakukan petugas setempat, seperti yang berlangsung di pasar tradisional Antri Baru Cimahi ini. Semua daging yang dijual pedagang diperiksa. Di sini petugas akhirnya menemukan daging tak layak makan, dijual pedagang. Daging sudah tidak segar, agak berbau dan diduga sudah mengandung penyakit, karena sudah ada cacing, dan membahayakan konsumen yang memakannya.
Daging-daging tak layak jual ini, akhirnya disitia petugas untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium. Dan pedagang yang menjualnya, langsung diberikan sanksi. Warga masyarakat, terutama kalangan ibu rumah tangga, memang harus waspada membeli daging. Karena masih banyak pedagang yang demi mencari keuntungan, menjual daging yang tak layak jual.
Sedikit petunjuk, bahwa jika diamati secara teliti terdapat perbedaan antara daging segar dan daging yang tak layak makan. Daging yang tak layak di makan warnanya pucat, kandungan airnya tinggi dan fisiknya rapuh sehingga tak bisa dijadikan makanan olahan, dan terakhir harganya, dijual agak murah. Mudah-mudahan, dengan ketelitian itu, kita tak menjadi korban pedagang nakal. (Tim Liputan/Sup)