indosiar.com, Jakarta - Program konversi minyak tanah ke gas elpiji hingga saat ini masih mendapat tanggapan beragam di masyarakat. Bahkan sejumlah warga hingga saat ini masih tetap memilih minyak tanah untuk memasak daripada gas elpiji dengan alasan keamanan.
Ibu Rohmah, warga Kampung Sawah, Jayakarsa, Jakarta Selatan ini adalah salah satunya. Rohmah mengaku sengaja tidak mengambil jatah kompor dan tabung gas yang dibagikan oleh pemerintah, pasalnya ia dan suaminya tidak berani menggunakan kompor gas karena beresiko meledak dan terbakar. Karena itu ia tetap bersikeras menggunakan kompor minyak tanah, walau kini harga perliternya bisa mencapai 6 ribu rupiah.
Lain Rohmah lain pula Yuli, ibu dua anak ini memutuskan beralih dari minyak tanah ke gas tak lama setelah program konversi diluncurkan pemerintah 6 bulan lalu. Menurutnya dengan gas ia ternyata bisa menghemat pengeluaran.
Program konversi minyak tanah ke gas tampaknya masih akan menghadapi kendala di masyarakat. Padahal rencananya pada Mei mendatang, seluruh minyak tanah bersubsidi akan ditarik dari pasaran dan minyak tanah dijual seharga 7800 rupiah perliter. Jika program ini terus dilanjutkan pemerintah nampaknya perlu menggalakkan penyuluhan cara penggunaan kompor serta tabung gas yang aman. (Astrid Farma Putri dan Dedi Effendi/Sup)