indosiar.com, Jakarta - Kalau anda penulis buku, tentu paham adagium ini, bahwa semakin kontoversial isinya akan semakin laku di pasaran.
George Yunus aditjondro, tentu sangat paham adagium itu, saat membuat buku “Membongkar Gurita Cikeas, Dibalik Skandal Bank Century”, yang beberapa hari lalu ia luncurkan di Yogyakarta.
Dan terbukti, buku yang isinya banyak bercerita tentang lalu lintas dana kampanye Partai Demokrat dan pilpres pasangan calon Presiden SBY - Boediono ini, langsung laku keras di pasar, dan kini sudah sangat sulit ditemui di toko-toko buku.
Sejak buku itu diluncurkan dan ramai diperbincangkan, toko-toko buku setiap hari ramai dikunjungi mereka yang ingin membeli. Tapi para calon pembeli, jadi kecewa karena buku yang mereka cari tak ada di rak-rak pajangan.
Kabar yang beredar, buku ini dijual secara tertutup di luar toko, dengan harga yang sudah naik dua hingga tiga kali lipat dari harga semula 36 ribu. Itupun tak mudah mendapatkan.
Buku George Aditjondro ini memang kontroversial, dan menuai beragam tanggapan, terutama karena menulis tentang sumber dana kampanye Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 2009 lalu.
Empat yayasan disebut sebagai sumber pencari dana dan mesin penggalang dukungan bagi SBY, yakni Yayasan Puri Cikeas, Yayasan Kepedulian dan Kesetiakawanan, Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam, dan Yayasan Mutumanikam Nusantara.
Isi buku ini langsung menuai tanggapan beragam dari sejumlah tokoh. Dari bernada menghujat dan berharap peredarannya ditarik, hingga mereka yang mencoba bersikap obyektif, melihatnya sebagai karya intelektual, dan hendaknya dihadapi secara intelektual pula.
George Aditjondro sendiri tak kaget buku banyak diminati, dan yakin, apa yang ia ungkapkan di bukunya tersebut berdasarkan fakta, dan siap ia pertanggungjawabkan kebenarannya. Begitupun pihak Galang Press, penerbit buku ini.
Bagaimana respon Presiden SBY terhadap buku ini? Sampai kemarin, secara khusus sang presiden belum memberi respon apa-apa. Hanya saja, ketika berbicara dalam perayaan natal bersama umat Kristiani di Jakarta, presiden menyatakan keprihatinannya, atas banyaknya fitnah, berita bohong, yang akhir-akhir ini banyak beredar dan cenderung menyesatkan masyarakat.
Menurut Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, Presiden SBY pada dasarnya mengikuti perkembangan yang terjadi di masyarakat, termasuk hadirnya buku George Yunus Aditjondro ini. Dan presiden kemungkinan baru akan merespon, setelah buku ini resmi diluncurkan, yang menurut kabar akan dilakukan sang penulis, 30 Desember besok.
Tak hanya pihak istana. Idrus Marham, Ketua Pansus Century DPR-pun mengaku mengikuti perkembangan buku ini, walau tak berarti akan menjadikan data-data dalam buku tersebut sebagai rujukan kerja mereka mengungkap skandal Bank Century.
George Yunus Aditjondro sendiri, di Yogyakarta, Senin (28//12) kemarin mengatakan akan merevisi lagi bukunya ini, sebelum resmi ia luncurkan.
Revisi dimaksudkan untuk memperkuat isi buku sebelumnya, termasuk soal aliran dana kampanye SBY yang sudah ia sebut pada edisi pralaunching 23 Desember lalu, dan kini ramai diperbincangkan masyarakat.
Di dunia penerbitan buku, nama George Yunus Aditjondro, bukan nama asing, bahkan cukup terkenal, karena hampir seluruh buku dan tulisannya, cenderung berani dan mengungkap data yang kontroversial bagi masyarakat.
Pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 63 tahun lalu ini, sejak dulu memang dikenal sebagai sosok kontroversial. Di tahun 90-an, saat ia menjadi pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana, ia menjadi salah satu pengkritik tajam pemerintahan Soeharto, yang akhirnya membuatnya dicekal, dan ia memilih pindah dan mengajar di Australia.
Di negeri kangguru itu, ia banyak menulis buku, kebanyakan bertema politik, dan hampir selalu menyulut kontroversial.
Lama menghilang, kini ia kembali ke tanah air, dan kembali membuat heboh dengan bukunya “Membongkar Gurita Cikeas, Dibalik Skandal Bank Century. George Yunus Aditjondro, sosok yang tak pernah sepi dari kontroversial.(Tim Liputan/Ijs)