indosiar.com, Yogyakarta - Catur dikenal sebagai salah satu cabang olahraga yang tidak saja menguras otak dan pikiran, tapi juga kejelian mata mencermati langkah-langkah bidak lawan. Lalu bagaimana dengan pertandingan catur tuna netra?. Keterbatasan penglihatan ternyata bukanlah penghalang, menggunakan papan dan bidak catur khusus dengan huruf braille para pecatur tuna netra tetap bersemangat menekuni olahraga catur untuk menorehkan pretasi.
Keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk meraih prestasi. Inilah yang bisa jadi dipegang teguh para pecatur tuna netra ini. Pada dasarnya catur bagi tuna netra tak jauh berbeda dengan catur biasa. Perbedaan ada pada papan catur yang dibuat lebih lebar dan diberi lubang untuk menempatkan bidak catur.
Untuk membedakan antara kotak hitam dan kota putih, testur kotak hitam dibuat agak lebih kasar. Sementara di masing-masing sisi papan ditambahkan huruf braille agar memudahkan para pemain melangkahkan bidak caturnya. Sedangkan untuk membedakan antara bidak catur hitam dengan putih ditambahkan paku payung diatas bidak hitam.
Teguh Widodo, salah satu pemain catur tuna netra mengaku tertarik pada permainan catur karena mengharuskannya mengatur taktik untuk mengalahkan lawan. Sayangnya pembinaan bagi para pemain catur tuna netra masih belum maksimal. Para pemain catur tuna netra ini berharap pemerintah bisa memberi fasilitas dan kesempatan bagi mereka untuk mengasah kemampuan dan mengukir prestasi dalam olahraga ini. (Tim Liputan/Sup)