HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
FOKUS
Bahasan Utama

Commuter Line Hapuskan Diskriminasi



indosiar.com, Jakarta - Setelah melalui tiga kali uji coba, akhirnya PT Kereta Api menetapkan sistem  pengoperasian tunggal atau commuter line, untuk pengaturan jadwal perjalanan kereta yang melayani jalur  Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, atau Jabodetabek. Selama masa uji coba hingga  pelaksanaan sistem commuter line, masih banyak keluhan penumpang, dengan tingkat keterlambatan  kedatangan KRL berkisar antara 10 menit hingga 30 menit. Seberapa efektifkah sistem commuter line ini  mengangkut penumpang?. Dan seberapa besarkah sistem baru ini mampu mengurangi kepadatan arus lalu lintas di ibukota?. Berikut laporan selengkapnya.

Setelah melalui serangkaian ujicoba, PT Kereta Api akhirnya memberlakukan sistem tunggal dalam  pengoperasian kereta listrik yang melayani seluruh rute di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi atau Jabodetabek. Dengan sistem pengaturan jadwal kereta yang juga dikenal dengan commuter line ini,  tidak ada lagi kereta eksekutif, yang memiliki kelebihan bisa menyusul KRL ekonomi atau KRL yang berkelas di bawahnya, karena hanya berhenti di stasiun-stasiun tertentu saja. Dengan commuter line ini,  seluruh kereta berhenti di setiap stasiun, dan melaju sesuai  urutan. 

Sejak diberlakukannya commuter line, 2 Juli lalu, KRL di Jabodetabek saat ini hanya dibedakan dalam dua kategori, yakni KRL ekonomi dan KRL a-c. Untuk memberlakukan sistem  baru ini,  PT Kereta Commuter Jabodetabek, atau PT KCJ melakukan tiga kali uji coba, dimulai dari tanggal 18 dan 30 Juni serta awal Juli. Sayangnya, hingga waktu pelaksanaan, 2 Juli lalu, masih banyak keluhan dari para penumpang. Keluhan umumnya dilontarkan oleh para penumpang yang biasa menggunakan jasa kereta ekspres.

Selain soal kenyamanan dan waktu tempuh yang lebih lama dibanding KRL ekspres, tidak sedikit pula  calon penumpang yang kebingungan membedakan KRL untuk tujuan tertentu, karena kurangnya  informasi di stasiun, seperti saat masih berlakunya sistem kereta ekspres.

Bagaimana pula hasil evaluasi selama uji coba dan selama dua hari pelaksanaan commuter line?.  Sekretaris perusahaan PT KCJ, Makmur Syaheran, mengakui, ada sejumlah hal yang perlu terus dievaluasi, terutama terkait keterlambatan kedatangan kereta di stasiun.

Untuk menanggulangi keterlambatan ini, PT KCJ berencana menambah rangkaian kereta untuk  sejumlah   tujuan. Hingga akhir tahun 2011, PT Kereta Api berencana menambah 248 unit  KRL. Dari  jumlah tersebut  90 unit KRL sudah dioperasikan, 28 unit masih dalam proses sertifikasi oleh kementerian perhubungan,   dan 130 unit baru dalam proses pengiriman dari Jepang. Total hingga akhir tahun  2011, PT Kereta Api  akan mengoperasikan lebih 600 unit KRL.

Dukungan atas pemberlakukan sistem tunggal pengoperasian KRL, juga diungkapkan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). Bahkan menurut Joko Setiyowarno, commuter line ini merupakan sistem ideal, untuk menyerap penumpang dan mengurangi kepadatan angkutan darat lainnya. Karena itu, Joko  mendesak pemerintah memberikan dukungan, baik berupa subsidi tarif maupun peningkatan infrastruktur.  Mengingat sistem commuter ini ditargetkan menyerap 1,2 juta penumpang setiap harinya, pada tahun  2019.

Untuk sistem commuter line, PT KCJ menerapkan lima kategori  tarif KRL sesuai tujuan. Yakni untuk  Jakarta – Bogor 7 ribu  rupiah, Jakarta – Depok  6 ribu  rupiah, Jakarta Bekasi 6 ribu 500 rupiah, Jakarta - Tangerang 5 ribu 500 rupiah, dan Jakarta – Serpong 6 ribu rupiah.

Bagi mereka yang sebelumnya menggunakan KRL ekspres dengan tarif 9 ribu atau 11 ribu rupiah, tarif baru ini tergolong lebih murah. Namun bagi mereka yang biasa menggunakan kelas ekonomi AC dengan tarif 5.500  rupiah, tarif baru ini berarti lebih mahal. Namun fakta ini tidak diakui oleh PT  KCJ sebagai kenaikan, tapi penyesuaian menuju  tarif yang sebenarnya.

Terlepas dari masih banyaknya penumpang yang kebingungan karena sosialisasi yang kurang, atau  mereka yang kehilangan kenyamanan, karena harus berhenti di setiap stasiun, yang pasti, sistem baru ini menjamin  kesetaraan pada semua penumpang. Mengingat tidak ada lagi kereta yang mendapatkan keistimewaan dari yang lainya.

Lalu bagaimana menyikapi hadirnya commuter line ini?. Mungkin baik juga disimak kiat seorang penumpang KRL asal Bogor bernama Mashari ini. (Tim Liputan/Sup) 

Bookmark and Share


Page: 1
11-Jul-2011 16:22:41 WIB by Hadi S
Commuter line, jika diterapkan dengan mekanisme yang benar, mungkin akan menguntungkan pengguna dan PT KAI.
Tetapi faktanya , PT KAI belum memiliki mekanisme yang bisa memastikan penumpang Commuter Line memang membayar tiket yang benar. Hampir di semua stasiun, penumpang bebas keluar masuk dan naik KRL yg diinginkan tanpa ada filter berarti dari petugas.
Hal ini memperparah kepadatan di dalam gerbong terutama pada jam jam pergi dan pulang kantor ( 0500-0800 dan 1600-1800).
Mohon management PT KAI dapat meng-evaluasi pelaksanaan di lapangan terhadap sistem ini, misalnya ikut naik Commuter line dari Bogor - Jakarta dan sebaliknya, agar dapat meningkatkan mutu pelayanan kepada pengguna jasa Commuter line.

 

Nama:
Email:
Security Code: