indosiar.com, Jakarta - Memasuki awal tahun, pihak Badan Meteorologi dan Geofisika sudah memperingatkan cuaca buruk yang bakal terjadi selama beberapa bulan kedepan. Kondisi seperti ini tentu tidak nyaman bagi pengguna jasa angkutan udara. Lalu langkah apa yang telah diambil pengelola penerbangan nasional, termasuk pemerintah ? Kendati cuaca buruk bukan menjadi penyebab kebanyakan kecelakaan penerbangan selama ini.
Cuaca buruk mulai terjadi ketika memasuki bulan Desember. Perubahan cuaca ekstrim dari panas ke dingin merupakan salah satu penyebabnya.
Cuaca buruk seperti saat ini mulai mempengaruhi baik transportasi laut dan udara. Misalnya saja di pelabuhan penyebrangan Ketapang – Banyuwangi. Pihak pelabuhan harus menunda beberapa pelayaran yang melintasi Selat Bali.
Hal sama juga dialami transportasi udara. Menunda atau membatalkan merupakan cara yang terbaik untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
Insiden tergelincirnya pesawat seringkali terjadi dalam kondisi cuaca seperti ini. Ini bisa terjadi akibat genangan air di landasan pacu serta angin kencang, yang bisa meyebabkan pesawat kehilangan kendali ketika mendarat.
Komisi Nasional Keselamatan Transportasi, sejak dini memperingatkan kepada pihak operator agar terus memantau kondisi cuaca, kendati komisi ini menilai angkutan laut dan udara saat ini, dalam kondisi layak operasi.
Badan Meteorologi dan Geofisika meramalkan sejumlah daerah di Indonesia yang berpotensi buruk atau terkena curah hujan tinggi disertai kabut tebal, seperti Sumatera bagian utara, tengah dan selatan, Jabodetabek, Kalimantan bagian selatan, sebagian Pulau Jawa. Sulawesi bagian selatan dan tenggara. Bali dan Nusa Tenggara. Maluku bagian utara serta Papua bagian barat dan selatan.
Melihat kondisi seperti ini, untuk beberapa bulan kedepan, beberapa perusahaan penerbangan nasional telah mengambil langkah antisipasi.
Perusahaan penerbangan biasanya melakukan berbagai cara menghadapi kondisi cuaca yang buruk, seperti mengalihkan pendaratan di bandar udara di kota lain atau yang sering terjadi adalah menunda atau membatalkan penerbangan.
Sebagian besar penumpang pesawat bisa memahami langkah yang diambil operator penerbangan.
Sejauh ini cuaca buruk bukan menjadi penyebab utama dari sekitar sembilan insiden kecelakaan penerbangan yang terjadi pada tahun 2009. Kecelakaan umumnya disebabkan oleh masalah teknis dan faktor kesalahan manusia.
Biasanya pilot berpengalaman dengan jam terbang tinggi, mampu menyiasati kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
Cuaca buruk ini akan terus terjadi hingga beberapa bulan ke depan. Ada baiknya langkah cepat dan tepat harus segera diambil, misalnya memberikan perhatian serius pada sejumlah bandar udara di Indonesia dimana kecelakaan pesawat, seperti tergelincir, kerap kali terjadi.
Begitu pula dengan perusahaan penerbangan nasional, ditengah persaingan yang begitu ketat, tentu lebih serius memberikan perhatian penuh pada pelayanan dan keselamatan.(Tim Liputan/Ijs)