indosiar.com, Purwakarta - (Selasa, 13.09.2011) Kemarau panjang menyebabkan debit air di waduk Juanda Jaliluhur Purwakarta Jawa Barat menyusut hingga dibawah normal. Kondisi ini membuat pengelola waduk Jatiluhur mengalami kesulitan untuk membagikan air bagi para petani, termasuk kiriman untuk air baku minum di Jakarta. Pengelola Jatiluhur mendesak pemerintah segera merealisasikan program hujan buatan mengingat sejak Maret hingga saat ini pasokan air dari beberapa sungai menyusut.
Tinggi muka air atau TMA Waduk Juanda Jatiluhur saat ini turun hingga 92,67 meter diatas permukaan laut. Jauh dibawah normal ketinggian yang harusnya mencapai 107 meter diatas permukaan laut. Kondisi ini terjadi lantaran kemarau panjang sejak Maret hingga saat ini dimana setiap hari tinggi muka air turun dengan rata-rata 15 centimeter.
Pengelola waduk Jatiluhur mengaku mulai kesulitan untuk mendistribusikan air bagi kebutuhan para petani di wilayah Subang, Kerawang dan Bekasi termasuk untuk kebutuhan air baku minum di Jakarta. Saat ini pihak pengelola Jatiluhur menyiasatinya dengan melakukan penghematan yakni dengan pendistribusian air secara bergilir dari hulu ke hilir.
Namun akibat penghematan ini, ratusan hektar lahan pertanian yang telah ditanami padi baik di Kabupaten Karawang seperti wilayah Kamujing, Cikampek maupun Kabupaten subang seperti di Kecamatan Pabuaran terancam gagal panen akibat terlambat mendapatkan pasokan air. Jika kondisi ini terus berlanjut hingga tiga bulan kedepan, ancaman kekeringan dipastikan akan terjadi terhadap para petani di wilayah Subang, Kerawang dan Bekasi serta krisis air bersih di Jakarta. (Zenal Arifin/Sup)