indosiar.com, Jakarta - Korban Lumpur Lapindo yang juga Kepala Desa Kedung Bendo, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, H. Hassan menangis histeris saat melakukan aksi unjuk rasa di atas tanggul bersama puluhan warga. Hasan terlihat stress karena memikirkan ganti rugi yang tidak dibereskan oleh PT Minarak Lapindo Jaya.
Ditengah tengah aksi unjuk rasa tiba tiba Haji Hasan histeris. Kepala Desa ini tidak kuat menahan kesedihan karena ganti rugi atan tanahnya dan rumahnya belum beres. Warga yang berunjuk rasa kemudian memapah Haji Hasan.
Aksi unjuk rasa ini dilakukan di atas tanggul baru di wilayah Kedung Bendo yang hingga saat ini belum selesai pembangunannya.
Tujuan aksi unjuk rasa adalah melarang pembangunan tanggul yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo. Tekanan yang alami Haji Hasan ini, bisa dimaklumi. Sebab ganti rugi uang senilai miliaran rupiah yang seharusnya dia terima belum beres.
Apalagi sistem pembayaran ganti rugi juga dicicil sebesar Rp 15 juta per bulan. Sebagian besar tanah Hasan juga sudah rata dengan tanah. Bahkan saat ini sedang dibangun tanggul untuk dibangun kolam penampungan lumpur baru, seluas 20 hektar.
Akibat aksi unjuk rasa ini, BPLS tidak meneruskan pembuatan tanggul di daerah Kedung Bendo. Untuk sementara, aktivitas penguatan tanggul dilakukan di lokasi lain di luar lokasi Kedung Bendo.
Sementara itu para korban lumpur kelompok GKLL (Gabungan Korban Luapan Lumpur) mendatangi Bank BRI cabang Sidoarjo. Aksi ini dilakukan karena angsuran untuk bulan Januari dari Bank BRI belum turun ke rekening mereka.
Padahal kata warga, dana dari PT Lapindo sebesar Rp 66 miliar sudah turun di Bank BRI.(Andi Wijaya/Her)