HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
FOKUS

Dua Jurnalis TV Sasaran Penganiayaan

Tayang: 29-Aug-2012 09:02 WIB

 

indosiar.com, Blitar - (29.08.2012) Aksi kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi. Kali ini kekerasan menimpa dua orang jurnalis televisi di Blitar, Jawa Timur. Keduanya menjadi sasaran penganiayaan massa saat akan meliput pengambilalihan lahan perkebunan Swaru Buluroto di Kabupaten Blitar yang menjadi sengketa antara warga dengan investor.

Dua jurnalis tv lokal di Surabaya yang menjadi korban penganiayaan di perkebunan Swaru Buluroto, adalah Elis Faizin dan Khoirul Hadi. Keduanya menjadi korban penganiayaan massa saat akan meliput rencana pengambilan lahan perkebunan Swaru Buluroto oleh investor.

Keduanya dianiaya sejumlah orang yang diduga pendukung investor yang akan mengambil alih perkebunan dari warga, saat akan mengeluarkan kamera untuk merekam kejadian. Akibat aksi pengeroyokan ini, kedua korban mengalami luka di bagian kepala, dada dan tangannya.

Aksi kekerasan ini diadukan kedua korban ke Mapolres Blitar. Keduanya mendatangi markas polisi diantar belasan jurnalis lainnya. Kedua korban juga divisum di Rumah Sakit Ngudi Waluyo Blitar.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen Kediri, Yusuf Saputro, menuntut kepolisian mengusut tuntas kasus penganiayaan dua jurnalis yang tengah menjalankan tugas. Karena menurutnya, tindakan kekerasan ini menghalangi tugas jurnalis, yang dilindungi undang-undang.

Sementara menanggapi tuntutan AJI Kediri, Kasat Reskrim Polres Blitar, AKP Ngadiman Rahyudi berjanji akan melakukan pengusutan serius, setelah menunggu hasil visum. Hingga Selasa siang, polisi sudah meminta keterangan dari sejumlah korban.

Sengketa perkebunan Swaru Buluroto ini bermula saat lahan perkebunan yang selama ini ditanami tebu oleh warga, akan diambil-alih oleh pihak investor dari Jombang. Investor berencana mengganti tanaman tebu dengan ketela, untuk pembuatan etanol. Warga menolak pengambil-alihan lahan, karena warga tidak mendapatkan ganti rugi dari upaya mereka menanam tebu. (Danu Sukendro/Sup)

Bookmark and Share