HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
FOKUS

Gejala Aids Harus Diperhatikan Sejak Dini



indosiar.com, Temanggung - Sejumlah penderita aids di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah terus bertambah. Seringkali para penderita tidak sadar bahwa dirinya sudah menderita aids sehingga agak menyulitkan tim dokter melakukan pertolongan.

Kasus penderita  HIV/Aids di Kabupaten Temanggung terus bertambah. Saat ini terdapat seorang pasien laki-laki berusia 27 tahun yang identitasnya dirahasikan di rawat secara intensif di ruangan khusus penderita HIV/Aids di Rumah Sakit Umum Daerah Joyonegoro, Temanggung.

Di Temanggung, tercatat selama kurun waktu 5 tahun terakhir telah ditemukan 15 penderita, 5 diantaranya meninggal dunia akibat virus mematikan tersebut.

Menurut Direktur RSUD Joyonegoro Temanggung Dr Adi Mijaja, sebagaimana kasus-kasus yang pernah terjadi sebelumnya, penderita mulanya tidak menyangka jika sakit yang diderita adalah aids. Sebab panas demam serta diare yang dialami dianggap sebagai penyakit ringan.

Setelah berhari-hari dirawat tidak sembuh-sembuh dan kondisi kesehatannya menurun barulah ada kecurigaan bahwa penyakitnya bukan demam biasa. Setelah dilakukan tes darah hasilnya menunjukkan bahwa orang tersebut menderita aids karena darahnya telah positif mengandung virus HIV.

Menurut dokter Adi, penyakit aids belum ditemukan obatnya. Dokter hanya memberikan obat-obatan untuk memperlambat perkembangan virus HIV saja.

Pemerintah kabupaten diharapkan memberikan perhatian khusus bagi penularan HIV/aids guna mencegah bertambahnya penderita penyakit yang menurunkan kekebalan tubuh manusia dan mematikan ini. (Tim Liputan/Sup)

Bookmark and Share


Page: 1
5-Jan-2012 12:49:42 WIB by yakup
GUE harap penyakit aisd dapat di musnahkan
26-May-2010 01:14:33 WIB by roman
smoga para dokter menemukan obat bagi para penderita hiv/aids,, sehingga para penderita aids di INDONESIA dapat tertolong dan tak ada lagi korban meninggal bagi para penderita hiv/aids
10-Jul-2009 12:21:02 WIB by YULIA
BERITA YG BAIK
29-Apr-2006 13:58:03 WIB by anston
pertama-tama kita harus sadar bahwa aids itu merusak kesehatan walaupun pada awalnya dng free sex n narkoba kita bisa dapetin kenikmatan. Tapi, daripada ujung-ujungnya kita menderita sengsara karna aids mendingan loe pada jauhin deh free sex n narkoba n teman-temannya. Mari kita bangun negara indonesia bebas aids.
9-Apr-2006 21:22:11 WIB by Iwan
Aids itu harus dicegah mulai dari sekarang, dengan cara memakai kondom dan tidak melakukan seks bebas.
9-Apr-2006 05:23:53 WIB by lina
Jalan tak ada ujung, itulah kira-kira situasi yang sedang dihadapi bangsa ini. Doa-doa telah digemakan dari berbagai penjuru, berbagai teori juga sudah kita pungut dari ribuan judul buku, tapi persoalan masih terus menelikung kita.

Sebagian di antara kita ada yang putus asa hingga mati bunuh diri, sebagian lagi ada yang pasrah, sebagian lainnya masih ada yang optimistis.

Sebagai pemuja hidup dan kehidupan, saya tentu tetap memilih terus optimistis kendati menghadapi gebalau zaman seperti saat ini. Itulah sebab, saya merasa girang, saat seorang kawan mengirimi saya email yang isinya bernada semangat.

Kawan saya ini bernama Wulan, Wulan Sekar Sari, Direktur Program Stigma, yang memiliki perhatian besar pada penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna Napza (Narkotik, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya).

Katanya, "Menutup tahun 2005 ini saya dan teman-teman LSM Stigma yang bergerak dalam penanganan dan penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna NAPZA suntik, saling membuat janji. Bahwa di tahun 2006 nanti teman-teman dampingan kami di lapangan (mereka adalah para pecandu napza suntik yang kemungkinan besar mereka terinfeksi HIV/AIDS) karena keterbatasan informasi, HARUS mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dan manusiawi."

Lalu Wulan melanjutkan, "Mengapa kami sebut manusiawi? Karena berdasarkan fakta yang kami temui di lapangan, setiap kali kami bawa dampingan kami yang sudah sakit, selalu mendapatkan kesulitan untuk akses layanan kesehatan. Terlebih lagi, apabila mereka dari kalangan ekonomi bawah. Stigma (cap buruk) bahwa mereka pecandu napza suntik sepertinya sudah tertanam dengan baik di kepala petugas kesehatan, terlebih lagi apabila dampingan yang kami bawa sudah terindikasi dengan AIDS, maka perlakuan yang akan kami terima lebih "aneh" lagi.’Buat apa diobati di sini? Di sini tidak bisa pakai kartu GAKIN! Kartu GAKIN bukan untuk pecandu narkoba dan HIV/AIDS. Penyakit di buat sendiri kok minta gratisan!’ Itulah salah satu pernyataan yang pernah saya dapatkan dari seorang suster di RS rujukan nasional untuk pasien ODHA yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah
Perasaan saya sontak menjadi perih dan marah. Oh.... jadi pikiran ini yang ada di kepala petugas kesehatan. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, kira-kira tujuan awal beliau masuk ke akademi keperawatan dulu untuk apa ya? Untuk membantu orang yang sedang terkapar sakit dan tidak berdaya atau menstigma dan mendiskriminasi orang lain? Hal apa yang membuat beliau tetap bertahan menjadi perawat? Uang atau panggilan hati?
Kasus tersebut di atas baru satu saja, tapi apabila saya diberikan kesempatan untuk merangkum semua pengalaman-pengalaman teman-teman LSM yang sudah melakukan pendampingan ke sahabat-sahabat ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) pasti bisa terkumpul menjadi satu buku
HIV/AIDS seharusnya sudah menjadi PRIORITAS bagi PEMERINTAH. Tidak boleh lagi menjadi urutan nomer sekian. Karena ini menyangkut kesehatan dan nyawa bangsa Indonesia dan generasi penerusnya. Sejauh ini, sudah banyak teman-teman saya yang masih dalam usia muda sudah lebih dahulu "merdeka" karena AIDS. Seharusnya mereka masih bisa mengecap masa muda, pendidikan, berkeluarga, merasakan kehadiran cucu, keindahan dunia, dan lain-lain. Meskipun karena pilihan dan kekhilafan mereka menjadi pecandu narkoba, bukan berarti pecandunya yang bersalah. Siapa yang memasukkan barang laknat itu ke Indonesia? Mendistribusikannya? Sejauh ini penggeberekan terbesar hanya untuk ganja, shabu, ecstacy, alhohol, dll. Tapi belum pernah terdengar ada oknum orang Indonesia yang tertangkap dengan PUTAW sekian puluh KG?
Putaw adalah napza dengan tingkat ketergantungan yang tinggi yang membuat para pecandu menjadi sulit berhenti. Karena sakit yang ditimbulkan apabila sedang menagih bisa sangat sakit, dan sugesti yang ditimbulkan bisa membuat rasa ingin menggunakan itu menjadi suatu hal yang sulit untuk dikendalikan.

Siapa yang tidak ingin melihat INDONESIA menjadi negeri yang ideal? Dalam artian, tidak ada narkoba, tidak ada teroris, tidak ada polio, tidak ada korupsi, tidak ada prostitusi, tidak ada kriminal, tidak ada HIV/AIDS, tapi kenyataannya tidak seperti itu bukan? Indonesia punya semua hal di atas. Setiap negara selain Indonesia pun punya permasalahan yang sama. Ini sudah menjadi REALITA yang harus dihadapi bersama.
Data sementara orang yang sudah terinfeksi HIV di seluruh dunia adalah 40,3 juta jiwa. Dan separuhnya adalah wanita. Dengan kenyataan seperti ini apakah kita masih melihat HIV/AIDS dengan kacamata moral? Bahwa HIV/AIDS adalah penyakit orang yang tidak bermoral, menjajakan seks, homo, pecandu narkoba, dll.

Lalu bagaimana dengan perempuan-perempuan yang tertular karena ketidak tahuan apabila suaminya sering "jajan" di lokalisasi pelacuran tanpa menggunakan kondom? Bagaimana dengan perempuan-perempuan yang terinfeksi HIV dari suami/pacar yang tidak mau jujur dengan latar belakang perilaku resiko tingginya? Bagaimana dengan bayi-bayi mungil yang terlahir dengan HIV karena sang ibu tidak tahu dia sudah tertular dari suaminya. Semuanya baru terkuak disaat sang suami sakit karena AIDS, dan ketika sang ibu dan anak di cek ternyata merekapun sudah HIV positif. Padahal mereka sama sekali datang dari keluarga baik-baik yang tidak pernah seks bebas, menggunakan narkoba, dll. Bagaimana juga dengan para orang tua pecandu yang sudah tahu anaknya HIV positif dan memutuskan untuk mengawinkan anaknya tanpa memberitahu status anaknya kepada keluarga istri termasuk menantunya sendiri? Hanya karena merasa HIV/AIDS masih menjadi AIB dan akan merusak nama baik keluarga
Hal-hal diatas adalah FAKTA yang saya temukan dalam kehidupan sehari-hari saya sebagai orang yang bekerja untuk permasalahan HIV/AIDS ini.

Ketika stigma dan diskriminasi masih datang dalam lingkungan keluarga dekat, ketika masing-masing pribadi masih memandang remeh arti kesehatan, ketika orang-orang kebanyakan tidak bertanggung jawab atas perilaku resikonya, ketika masyarakat Indonesia masih belum mau mencari tahu apa itu HIV/AIDS, cara penularannya, cara pencegahannya, tidak menular melalui jabat tangan, makan dan minum bersama, berpelukan, gigitan nyamuk, dan lain-lain, selama itulah permasalahan HIV/AIDS ini tidak akan pernah selesai. Stigma dan diskriminasi akan HIV/AIDS dan ODHA akan terus berlangsung. Sementara di sekitar kita sudah banyak korban berjatuhan dan wafat karena AIDS.

Harapan saya di tahun 2006, PEMERINTAH bisa merespon HIV/AIDS sama pentingnya dengan MERESPON penyakit polio, DBD, flu burung, SARS, dll. Butuh bukti apalagi kalau sekarang sudah banyak bayi-bayi terlahir dengan HIV? Butuh kenyataan apa lagi apabila dalam waktu beberapa tahun mendatang akan banyak anak yatim piatu karena orang tuanya wafat karena AIDS? Dan semakin banyak RS yang dibanjiri dengan warga Indonesia yang sakit karena AIDS. Apabila sistem pelayanan kesehatan, akses untuk GAKIN, akses untuk VCT (tes HIV dengan konseling, sukarela dan terjamin kerahasiaannya), akses ARV (Anti Retroviral), akses untuk tes CD4 dan Viral Load (tes untuk mengetahui jumlah kekebalan tubuh dan jumlah virus dalam darah untuk menentukan mulai pengobatan ARV) belum tersedia dan gratis di fasilitasi oleh pemerintah di setiap propinsi, maka bersiap-siaplah untuk kehilangan beberapa generasi bangsa.
Informasi dasar tentang HIV/AIDS HARUS disosialisasikan ke setiap pihak yang berkepentingan. Mulai dari pejabat pemerintahan secara keseluruhan(terutama para pengambil kebijakan), media massa (TV, koran, tabloid, radio), artis, dinas kesehatan (dokter, perawat, bidan, mantri), dinas pariwisata, para sopir truk, pekerja seks komersil, perkumpulan gay, perkumpulan waria, orang tua, panti pijat, sarana hiburan, restoran, sarana farmasi, polisi, mahasiswa, pelajar SMU dan SMP, bapak camat, bapak lurah, warga masyarakat, LSM, warga di pelosok-pelosok, hingga kelapisan terbawah dan pihak-pihak lain yang belum disebutkan diatas.

Alat perang paling ampuh untuk melawan HIV/AIDS adalah INFORMASI yang BENAR, CINTA dan KEPEDULIAN.

Selama informasi yang diberikan benar maka semakin banyak orang tahu fakta yang benar tentang HIV/AIDS sehingga stigma dan diskriminasi hilang.
CINTA DAN KEPEDULIAN harus dibangkitkan kepada ODHA.
Mengapa kita sebagai manusia harus membuat perbedaan kepada orang lain sementara TUHAN melihat kita dengan cara yang sama?
Hanya CINTA yang mampu menciptakan KEAJAIBAN bagi DUNIA. Ketika kita semua terpanggil untuk bersatu melawan virus HIV/AIDS dan bukan orangnya, ketika itulah dunia akan terasa damai.

Sisihkanlah 10 menit dari 24 jam waktu Anda untuk membaca informasi dasar tentang HIV/AIDS.
9-Apr-2006 05:16:29 WIB by linda
Jalan tak ada ujung, itulah kira-kira situasi yang sedang dihadapi bangsa ini. Doa-doa telah digemakan dari berbagai penjuru, berbagai teori juga sudah kita pungut dari ribuan judul buku, tapi persoalan masih terus menelikung kita
Sebagian di antara kita ada yang putus asa hingga mati bunuh diri, sebagian lagi ada yang pasrah, sebagian lainnya masih ada yang optimistis
Sebagai pemuja hidup dan kehidupan, saya tentu tetap memilih terus optimistis kendati menghadapi gebalau zaman seperti saat ini. Itulah sebab, saya merasa girang, saat seorang kawan mengirimi saya email yang isinya bernada semangat.
Kawan saya ini bernama Wulan, Wulan Sekar Sari, Direktur Program Stigma, yang memiliki perhatian besar pada penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna Napza (Narkotik, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya

Katanya, "Menutup tahun 2005 ini saya dan teman-teman LSM Stigma yang bergerak dalam penanganan dan penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna NAPZA suntik, saling membuat janji. Bahwa di tahun 2006 nanti teman-teman dampingan kami di lapangan (mereka adalah para pecandu napza suntik yang kemungkinan besar mereka terinfeksi HIV/AIDS) karena keterbatasan informasi, HARUS mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dan manusiawi."
Lalu Wulan melanjutkan, "Mengapa kami sebut manusiawi? Karena berdasarkan fakta yang kami temui di lapangan, setiap kali kami bawa dampingan kami yang sudah sakit, selalu mendapatkan kesulitan untuk akses layanan kesehatan. Terlebih lagi, apabila mereka dari kalangan ekonomi bawah. Stigma (cap buruk) bahwa mereka pecandu napza suntik sepertinya sudah tertanam dengan baik di kepala petugas kesehatan, terlebih lagi apabila dampingan yang kami bawa sudah terindikasi dengan AIDS, maka perlakuan yang akan kami terima lebih "aneh" lagi





Surat dari Wulan


Jakarta, KCM

Kirim Teman | Print Artikel




Jalan tak ada ujung, itulah kira-kira situasi yang sedang dihadapi bangsa ini. Doa-doa telah digemakan dari berbagai penjuru, berbagai teori juga sudah kita pungut dari ribuan judul buku, tapi persoalan masih terus menelikung kita.

Sebagian di antara kita ada yang putus asa hingga mati bunuh diri, sebagian lagi ada yang pasrah, sebagian lainnya masih ada yang optimistis.

Sebagai pemuja hidup dan kehidupan, saya tentu tetap memilih terus optimistis kendati menghadapi gebalau zaman seperti saat ini. Itulah sebab, saya merasa girang, saat seorang kawan mengirimi saya email yang isinya bernada semangat.

Kawan saya ini bernama Wulan, Wulan Sekar Sari, Direktur Program Stigma, yang memiliki perhatian besar pada penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna Napza (Narkotik, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya).

Katanya, "Menutup tahun 2005 ini saya dan teman-teman LSM Stigma yang bergerak dalam penanganan dan penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna NAPZA suntik, saling membuat janji. Bahwa di tahun 2006 nanti teman-teman dampingan kami di lapangan (mereka adalah para pecandu napza suntik yang kemungkinan besar mereka terinfeksi HIV/AIDS) karena keterbatasan informasi, HARUS mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dan manusiawi."

Lalu Wulan melanjutkan, "Mengapa kami sebut manusiawi? Karena berdasarkan fakta yang kami temui di lapangan, setiap kali kami bawa dampingan kami yang sudah sakit, selalu mendapatkan kesulitan untuk akses layanan kesehatan. Terlebih lagi, apabila mereka dari kalangan ekonomi bawah. Stigma (cap buruk) bahwa mereka pecandu napza suntik sepertinya sudah tertanam dengan baik di kepala petugas kesehatan, terlebih lagi apabila dampingan yang kami bawa sudah terindikasi dengan AIDS, maka perlakuan yang akan kami terima lebih "aneh" lagi.






Surat dari Wulan


Jakarta, KCM

Kirim Teman | Print Artikel




Jalan tak ada ujung, itulah kira-kira situasi yang sedang dihadapi bangsa ini. Doa-doa telah digemakan dari berbagai penjuru, berbagai teori juga sudah kita pungut dari ribuan judul buku, tapi persoalan masih terus menelikung kita.

Sebagian di antara kita ada yang putus asa hingga mati bunuh diri, sebagian lagi ada yang pasrah, sebagian lainnya masih ada yang optimistis.

Sebagai pemuja hidup dan kehidupan, saya tentu tetap memilih terus optimistis kendati menghadapi gebalau zaman seperti saat ini. Itulah sebab, saya merasa girang, saat seorang kawan mengirimi saya email yang isinya bernada semangat.

Kawan saya ini bernama Wulan, Wulan Sekar Sari, Direktur Program Stigma, yang memiliki perhatian besar pada penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna Napza (Narkotik, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya).

Katanya, "Menutup tahun 2005 ini saya dan teman-teman LSM Stigma yang bergerak dalam penanganan dan penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna NAPZA suntik, saling membuat janji. Bahwa di tahun 2006 nanti teman-teman dampingan kami di lapangan (mereka adalah para pecandu napza suntik yang kemungkinan besar mereka terinfeksi HIV/AIDS) karena keterbatasan informasi, HARUS mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dan manusiawi."

Lalu Wulan melanjutkan, "Mengapa kami sebut manusiawi? Karena berdasarkan fakta yang kami temui di lapangan, setiap kali kami bawa dampingan kami yang sudah sakit, selalu mendapatkan kesulitan untuk akses layanan kesehatan. Terlebih lagi, apabila mereka dari kalangan ekonomi bawah. Stigma (cap buruk) bahwa mereka pecandu napza suntik sepertinya sudah tertanam dengan baik di kepala petugas kesehatan, terlebih lagi apabila dampingan yang kami bawa sudah terindikasi dengan AIDS, maka perlakuan yang akan kami terima lebih "aneh" lagi.





Surat dari Wulan


Jakarta, KCM

Kirim Teman | Print Artikel




Jalan tak ada ujung, itulah kira-kira situasi yang sedang dihadapi bangsa ini. Doa-doa telah digemakan dari berbagai penjuru, berbagai teori juga sudah kita pungut dari ribuan judul buku, tapi persoalan masih terus menelikung kita.

Sebagian di antara kita ada yang putus asa hingga mati bunuh diri, sebagian lagi ada yang pasrah, sebagian lainnya masih ada yang optimistis.

Sebagai pemuja hidup dan kehidupan, saya tentu tetap memilih terus optimistis kendati menghadapi gebalau zaman seperti saat ini. Itulah sebab, saya merasa girang, saat seorang kawan mengirimi saya email yang isinya bernada semangat.

Kawan saya ini bernama Wulan, Wulan Sekar Sari, Direktur Program Stigma, yang memiliki perhatian besar pada penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna Napza (Narkotik, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya).

Katanya, "Menutup tahun 2005 ini saya dan teman-teman LSM Stigma yang bergerak dalam penanganan dan penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna NAPZA suntik, saling membuat janji. Bahwa di tahun 2006 nanti teman-teman dampingan kami di lapangan (mereka adalah para pecandu napza suntik yang kemungkinan besar mereka terinfeksi HIV/AIDS) karena keterbatasan informasi, HARUS mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dan manusiawi."

Lalu Wulan melanjutkan, "Mengapa kami sebut manusiawi? Karena berdasarkan fakta yang kami temui di lapangan, setiap kali kami bawa dampingan kami yang sudah sakit, selalu mendapatkan kesulitan untuk akses layanan kesehatan. Terlebih lagi, apabila mereka dari kalangan ekonomi bawah. Stigma (cap buruk) bahwa mereka pecandu napza suntik sepertinya sudah tertanam dengan baik di kepala petugas kesehatan, terlebih lagi apabila dampingan yang kami bawa sudah terindikasi dengan AIDS, maka perlakuan yang akan kami terima lebih "aneh" lagi.’Buat apa diobati di sini? Di sini tidak bisa pakai kartu GAKIN! Kartu GAKIN bukan untuk pecandu narkoba dan HIV/AIDS. Penyakit di buat sendiri kok minta gratisan!’ Itulah salah satu pernyataan yang pernah saya dapatkan dari seorang suster di RS rujukan nasional untuk pasien ODHA yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah
Perasaan saya sontak menjadi perih dan marah. Oh.... jadi pikiran ini yang ada di kepala petugas kesehatan. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, kira-kira tujuan awal beliau masuk ke akademi keperawatan dulu untuk apa ya? Untuk membantu orang yang sedang terkapar sakit dan tidak berdaya atau menstigma dan mendiskriminasi orang lain? Hal apa yang membuat beliau tetap bertahan menjadi perawat? Uang atau panggilan hati?
Kasus tersebut di atas baru satu saja, tapi apabila saya diberikan kesempatan untuk merangkum semua pengalaman-pengalaman teman-teman LSM yang sudah melakukan pendampingan ke sahabat-sahabat ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) pasti bisa terkumpul menjadi satu buku
HIV/AIDS seharusnya sudah menjadi PRIORITAS bagi PEMERINTAH. Tidak boleh lagi menjadi urutan nomer sekian. Karena ini menyangkut kesehatan dan nyawa bangsa Indonesia dan generasi penerusnya. Sejauh ini, sudah banyak teman-teman saya yang masih dalam usia muda sudah lebih dahulu "merdeka" karena AIDS. Seharusnya mereka masih bisa mengecap masa muda, pendidikan, berkeluarga, merasakan kehadiran cucu, keindahan dunia, dan lain-lain. Meskipun karena pilihan dan kekhilafan mereka menjadi pecandu narkoba, bukan berarti pecandunya yang bersalah. Siapa yang memasukkan barang laknat itu ke Indonesia? Mendistribusikannya? Sejauh ini penggeberekan terbesar hanya untuk ganja, shabu, ecstacy, alhohol, dll. Tapi belum pernah terdengar ada oknum orang Indonesia yang tertangkap dengan PUTAW sekian puluh KG?
Putaw adalah napza dengan tingkat ketergantungan yang tinggi yang membuat para pecandu menjadi sulit berhenti. Karena sakit yang ditimbulkan apabila sedang menagih bisa sangat sakit, dan sugesti yang ditimbulkan bisa membuat rasa ingin menggunakan itu menjadi suatu hal yang sulit untuk dikendalikan.

Siapa yang tidak ingin melihat INDONESIA menjadi negeri yang ideal? Dalam artian, tidak ada narkoba, tidak ada teroris, tidak ada polio, tidak ada korupsi, tidak ada prostitusi, tidak ada kriminal, tidak ada HIV/AIDS, tapi kenyataannya tidak seperti itu bukan? Indonesia punya semua hal di atas. Setiap negara selain Indonesia pun punya permasalahan yang sama. Ini sudah menjadi REALITA yang harus dihadapi bersama.
Data sementara orang yang sudah terinfeksi HIV di seluruh dunia adalah 40,3 juta jiwa. Dan separuhnya adalah wanita. Dengan kenyataan seperti ini apakah kita masih melihat HIV/AIDS dengan kacamata moral? Bahwa HIV/AIDS adalah penyakit orang yang tidak bermoral, menjajakan seks, homo, pecandu narkoba, dll.

Lalu bagaimana dengan perempuan-perempuan yang tertular karena ketidak tahuan apabila suaminya sering "jajan" di lokalisasi pelacuran tanpa menggunakan kondom? Bagaimana dengan perempuan-perempuan yang terinfeksi HIV dari suami/pacar yang tidak mau jujur dengan latar belakang perilaku resiko tingginya? Bagaimana dengan bayi-bayi mungil yang terlahir dengan HIV karena sang ibu tidak tahu dia sudah tertular dari suaminya. Semuanya baru terkuak disaat sang suami sakit karena AIDS, dan ketika sang ibu dan anak di cek ternyata merekapun sudah HIV positif. Padahal mereka sama sekali datang dari keluarga baik-baik yang tidak pernah seks bebas, menggunakan narkoba, dll. Bagaimana juga dengan para orang tua pecandu yang sudah tahu anaknya HIV positif dan memutuskan untuk mengawinkan anaknya tanpa memberitahu status anaknya kepada keluarga istri termasuk menantunya sendiri? Hanya karena merasa HIV/AIDS masih menjadi AIB dan akan merusak nama baik keluarga
Hal-hal diatas adalah FAKTA yang saya temukan dalam kehidupan sehari-hari saya sebagai orang yang bekerja untuk permasalahan HIV/AIDS ini.

Ketika stigma dan diskriminasi masih datang dalam lingkungan keluarga dekat, ketika masing-masing pribadi masih memandang remeh arti kesehatan, ketika orang-orang kebanyakan tidak bertanggung jawab atas perilaku resikonya, ketika masyarakat Indonesia masih belum mau mencari tahu apa itu HIV/AIDS, cara penularannya, cara pencegahannya, tidak menular melalui jabat tangan, makan dan minum bersama, berpelukan, gigitan nyamuk, dan lain-lain, selama itulah permasalahan HIV/AIDS ini tidak akan pernah selesai. Stigma dan diskriminasi akan HIV/AIDS dan ODHA akan terus berlangsung. Sementara di sekitar kita sudah banyak korban berjatuhan dan wafat karena AIDS.

Harapan saya di tahun 2006, PEMERINTAH bisa merespon HIV/AIDS sama pentingnya dengan MERESPON penyakit polio, DBD, flu burung, SARS, dll. Butuh bukti apalagi kalau sekarang sudah banyak bayi-bayi terlahir dengan HIV? Butuh kenyataan apa lagi apabila dalam waktu beberapa tahun mendatang akan banyak anak yatim piatu karena orang tuanya wafat karena AIDS? Dan semakin banyak RS yang dibanjiri dengan warga Indonesia yang sakit karena AIDS. Apabila sistem pelayanan kesehatan, akses untuk GAKIN, akses untuk VCT (tes HIV dengan konseling, sukarela dan terjamin kerahasiaannya), akses ARV (Anti Retroviral), akses untuk tes CD4 dan Viral Load (tes untuk mengetahui jumlah kekebalan tubuh dan jumlah virus dalam darah untuk menentukan mulai pengobatan ARV) belum tersedia dan gratis di fasilitasi oleh pemerintah di setiap propinsi, maka bersiap-siaplah untuk kehilangan beberapa generasi bangsa.
Informasi dasar tentang HIV/AIDS HARUS disosialisasikan ke setiap pihak yang berkepentingan. Mulai dari pejabat pemerintahan secara keseluruhan(terutama para pengambil kebijakan), media massa (TV, koran, tabloid, radio), artis, dinas kesehatan (dokter, perawat, bidan, mantri), dinas pariwisata, para sopir truk, pekerja seks komersil, perkumpulan gay, perkumpulan waria, orang tua, panti pijat, sarana hiburan, restoran, sarana farmasi, polisi, mahasiswa, pelajar SMU dan SMP, bapak camat, bapak lurah, warga masyarakat, LSM, warga di pelosok-pelosok, hingga kelapisan terbawah dan pihak-pihak lain yang belum disebutkan diatas.

Alat perang paling ampuh untuk melawan HIV/AIDS adalah INFORMASI yang BENAR, CINTA dan KEPEDULIAN.

Selama informasi yang diberikan benar maka semakin banyak orang tahu fakta yang benar tentang HIV/AIDS sehingga stigma dan diskriminasi hilang.
CINTA DAN KEPEDULIAN harus dibangkitkan kepada ODHA.
Mengapa kita sebagai manusia harus membuat perbedaan kepada orang lain sementara TUHAN melihat kita dengan cara yang sama?
Hanya CINTA yang mampu menciptakan KEAJAIBAN bagi DUNIA. Ketika kita semua terpanggil untuk bersatu melawan virus HIV/AIDS dan bukan orangnya, ketika itulah dunia akan terasa damai.

Sisihkanlah 10 menit dari 24 jam waktu Anda untuk membaca informasi dasar tentang HIV/AIDS.

Bangkitkanlah CINTA dan KEPEDULIAN Anda untuk permasalahan ini. Karena HIV/AIDS bisa terjadi pada siapa saja, termasuk keluarga terdekat ANDA sendiri









8-Apr-2006 18:51:25 WIB by winda
sy turut prihatin ats berkembangaya penyakit Aids di temanggung krn sy jg orang jateng.mari kt tinggalkan badaya yg menjurus ke hal2 tsbt
8-Apr-2006 15:13:36 WIB by ineke
maka nya negara indonesia cepat berkembang karna negara kita masih jaman tabu penyakit AIDS masih di rahasiakan dia gak mau terbuka maka nya membahayakan kesehatan orang .
tidak semua orang itu terbuka seharus nya orang yang punya AIDS harus terbuka dan jangan di bebas kan main sex sama siapa aja please kasihan sama orang sehat dan gimana kalau negara kita seperti afrika hampir 99 percen seperti konggo sudan ..
mau negara kita hancur seperti negara afrika.
jadi kita harus saling jungjung dan saling mengerti apa itu AIDS dan jangan di jauhkan orang yang ngidap AIDS jadi ada perasaan takut untuk terbuka jik orang menjauhi nya maka indonesia sekarang ini harus saling pengertia kita harus bisa hidup dengan orang ngidap AIDS jika kita tak saling mengerti ..orang yang punya AIDS gak kan berterus terang karena rasa malu dan takut di jauhi orang seperti di asingkan orang.
AIDS tidak berbahaya jika kita tahu penyebab nya...satu jangan main sex bebas dan suntik narkoba.. itu yang bisa menularkan ke semua orang bukan dari pembicaraan ataw ciuman pun tidak menular walau pun kita serumah is ok.
please jangan jauhi orang yang ngidap AIDS biar kita saling jaga kesehatan..
8-Apr-2006 15:12:52 WIB by ineke
maka nya negara indonesia cepat berkembang karna negara kita masih jaman tabu penyakit AIDS masih di rahasian dia gak mau terbuka maka nya membahayakan kesehatan orang .
tidak semua orang itu terbuka seharus nya orang yang punya AIDS harus terbuka dan jangan di bebas kan main sex sama siapa aja please kasihan sama orang sehat dan gimana kalau negara kita seperti afrika hampir 99 percen seperti konggo sudan ..
mau negara kita hancur seperti negara afrika.
jadi kita harus saling jungjung dan saling mengerti apa itu AIDS dan jangan di jauhkan orang yang ngidap AIDS jadi ada perasaan takut untuk terbuka jik orang menjauhi nya maka indonesia sekarang ini harus saling pengertia kita harus bisa hidup dengan orang ngidap AIDS jika kita tak saling mengerti ..orang yang punya AIDS gak kan berterus terang karena rasa malu dan takut di jauhi orang seperti di asingkan orang.
AIDS tidak berbahaya jika kita tahu penyebab nya...satu jangan main sex bebas dan suntik narkoba.. itu yang bisa menularkan ke semua orang bukan dari pembicaraan ataw ciuman pun tidak menular walau pun kita serumah is ok.
please jangan jauhi orang yang ngidap AIDS biar kita saling jaga kesehatan..

 

Nama:
Email:
Security Code: