HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
FOKUS
Bahasan Utama

Hadapi Ujian Nasional dengan Tenang



indosiar.com, Jakarta - 18 April pekan depan, secara serempak Sekolah Menengah umum di tanah air akan menggelar ujian nasional. Namun berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini, bobot penilaian kelulusan tidak didasarkan pada hasil UN semata, karena ditambahkan nilai rapor siswa. Kendati demikian, kekhawatiran tidak lulus ujian tetap menghantui siswa.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional memastikan  telah sia menyelenggarakan ujian nasional secara serentak di tingkat Sekolah Menengah Umum dan Sekolah Menengah Pertama dan sekolah Dasar mulai 18 April hingga pertengahan Mei mendatang.  Tahun ini ujian nasional diikuti lebih dari 10 juta siswa diseluruh Indonesia. Mulai dari tingkat SD hingga SMU.

Ujian tingkat SMU dilaksanakan tanggal 18 sampai 21 April, tingkat SMP tanggal  25 sampai dengan 28 April dan tingkat SD tanggal 10 sampai dengan 12 Mei. Pada tingkat SMP dan SMU nantinya tersedia 5 paket soal ujian yang dibagikan secara acak, dan pada tingkat SD hanya 1 paket.

Pada tahun ini para siswa dan guru merasa lebih lega mengingat bobot penilaian tidak difokuskan pada hasil ujian nasional semata. Karena komposisinya dibagi menjadi dua, 60 dibanding 40 dengan nilai rapor para siswa. Sementara penilaian pada UN tahun lalu yang didasarkan hasil ujian nasional seluruhnya sangat ekstrim. Penilaian seperti itu menyebabkan banyak siswa yang tergolong cerdas gagal lulus karena nilainya tidak memenuhi target kelulusan.

Untuk tingkat SMP dan SMU standar kelulusan tahun ini adalah 5,5 yang diakumuliasi dari nilai UN dan nilai sekolah. Sedangkan kelulusan tingkat SD ditentukan masing-masing satuan pendidikan.

Menjelang ujian nasional para guru dan siswa memacu persiapan agar pada ujian nanti dapat menjawab soal-soal yang diberikan. Di SMA 13 Jakarta Utara misalnya, tryout menjadi andalan pembekalan bagi siswa, sekolah yang berstandar internasional ini. 

Meski komposisi penilaian lebih lunak, ujian nasional memang memberikan dampak terganggunya spikis para siswa, akibat tuntutan yang tinggi untuk menguasai semua hal yang termuat dalam kurikulum sehingga dapat mengakibatkan mereka stres.

Salah satu bentuk nyata kepanikan dalam menghadapi ujian nasional adalah banyaknya sekolah yang menggelar istigosah untuk berdoa mengharapkan kelulusan. Kepanikan itu memang benar adanya. Ribuan siswa SMU dan SMP di Sidoarjo Selasa mengikuti doa bersama untuk menghadapi Unas 2011. Doa bersama dilakukan agar pelaksanan Unas di kabupaten Sidoarjo berjalan lancar dan siswa berharap segera lulus 100 persen.

Doa besama mereka anggap sebagai iktiar para siswa agar diberi kemudahan dalam melaksanakan unas. Sama halnya dengan ratusan siswa siswi SD, SLTP dan SMU di Jalan Indrapura, Surabaya yang menggelar doa bersama di masjid Kemayoran, Surabaya.

Pihak sekolah sengaja menggelar acara ini, sebagai pembekalan dalam menempuh unas, selain beberapa tambahan jam pelajaran yang telah ditempuh oleh para siswa. Sekolah berharap, siswa siswinya lulus seratus persen, dalam unas tahun 2011.

Namun di mata pengamat pendidikan istigosah tersebut dapat membuat peserta ujian nasional menjadi stress karena kelelahan apalagi bila mereka diwajibkan mengikuti ritual tersebut.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh Nusa Putra, tingkat kelulusan terbaik dalam ujian nasional justru diraih oleh sekolah yang tidak mewajibkan siswanya mengikuti kegiatan istigosah. Doa bersama atau istigosah baik, namun akan menjadi tidak baik bila diterapkan dalam menghadapi ujian nasional karena dapat mengganggu fisik maupun kejiwaan para pelajar.

Menghadapi ujian nasional memang tidak bisa santai, tetapi tidak tepat juga jika terlalu memaksakan diri dan tertekan. Seharusnya siswa diberikan kegiatan yang bersifat ringan dan menekankan bahwa ujian nasional bukanlah sesuatu yang sangat menakutkan. Persiapan yang lebih panjang tentu lebih baik dan lebih ringan. (Tim Liputan/Sup)

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code: