HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
FOKUS

Pembelian Menurun

Harga BBM Non Subsidi Meroket



indosiar.com, Jakarta - Meroketnya harga bahan bakar minyak non subsidi yang saat ini menembus angka 9 ribu rupiah per liter, membuat stok pertamax dan pertamax plus di sejumlah SPBU di Jakarta berlebih. Sebaliknya, saat ini terjadi lonjakan pembelian BBM bersubsidi, khususnya premium. Hal ini karena banyak pengguna BBM non subsidi kini beralih menggunakan premium.

Kembali naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi, pertamax dan pertamax plus cukup membuat para penggunanya terkejut dan mengelus dada. Pertanggal 2 Mei 2001 kemarin, harga BBM non subsidi kembali naik menyesuaikan dengan kenaikan harga minyak dunia.

Harga pertamax dari 8700 kini menjadi 9050 rupiah perliter. Sedangkan pertamax plus yang semula 9050 kini menjadi 9350 rupiah perliter. Akibatnya, sejumlah pengguna pertamax yang sebelumnya pasrah dan mencoba bertahan menggunakan pertamax, kini mengaku angkat tangan. Sejak harga pertamax menembus angka 9000 rupiah perliter, mereka beralih menggunakan premium sepenuhnya atau mencampur bahan bakar pertamax dengan premium.

Tapi banyak pula pemilik mobil mewah yang tetap bertahan menggunakan BBM non subsidi, pertamax atau pertamax plus untuk menjaga agar mesin mobil tetap terawat. Meroketnya harga pertamax dan pertamax plus membuat sejumlah SPBU mengaku stok BBM non subsidi mereka kerap berlebih, namun sebaliknya terjadi lonjakan penjualan premium.

Kenaikan penjualan premium saat ini berkisar antara 10 hingga 15 persen. Di sebuah SPBU di Jalan Daan Mogot misalnya, bila sebelumnya konsumsi premium berkisar 26 ton perhari, kini mencapai 30 ton sehari. Sebaliknya BBM non subsidi yang biasanya terjual 3 ton perhari, kini menjadi sekitar 2 ton perhari. (Erwin Saputra/Dwinanto Agung/Sup)

Bookmark and Share