HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
FOKUS

Harga Beras Naik, Masyarakat Panik






indosiar.com, Jakarta
- Beginilah reaksi warga masyarakat, jika kebutuhan pokok mereka bernama beras, harganya merangkak naik. Mereka panik, kemampuan ekonomi keluarga yang sudah pas-pasan, harus dihitung lagi menghadapi kenaikan itu. 

Itulah sebabnya, mereka yang tergabung dalam Serikat Rakyat Miskin Indonesia ini, kemarin ramai-ramai mendatangi kantor Bulog di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Mereka minta badan pengendali harga beras itu cepat menyalurkan beras untuk rakyat miskin, sekaligus meningkatkan kualitasnya, karena yang selama ini mereka terima dianggap tak layak makan.

Satu pekan terakhir, harga beras memang merangkak naik. Pantauan di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur, harga beras IR 64 kualitas rendah, dijual seharga Rp 6200 per kilogram, dari harga sebelumnya Rp 5.500. IR 64 kualitas menengah naik dari 5600 menjadi 6500 per kilogram. Demikian juga IR 64 kualitas tinggi, naik dari 5800 menjadi 6800 per kilogram.

Menurut para pedagang beras, kenaikan itu dipicu sepinya distribusi beras dari daerah, karena musim penghujan dan masa panen petani beras yang mundur dari jadwal Januari ini.

Baik pedagang maupun pembeli beras berharap, pemerintah cepat mengambil langkah, guna menstabilkan lagi harga beras ini.

Kenaikan harga beras ini, juga dikeluhkan para penjual nasi di warung-warung makan. Mereka jadi bingung mensiasati kenaikan ini, untuk barang dagangan mereka. Jika harus menaikkan harga makan, mereka khawatir kehilangan pelanggan.

Kepanikan pasar, terutama di kalangan warga masyarakat ini, bukannya tak disadari pemerintah, dalam hal ini Menteri Pertanian, tapi kepanikan itu menurut Mentan Suswono, lebih karena faktor psikologis saja.

Kenaikan harga beras menurut Menteri Pertanian, belum jelas sebabnya. Bisa karena ulah pedagang beras, yang memanfaatkan keputusan pemerintah menaikkan harga pembelian pemerintah sebesar 10 persen per 1 Januari 2010 lalu, atau bisa karena dampak El Nino yang membuat masa panen yang mestinya pertengahan Januari jadi tertunda sampai sekarang.

31 Desember 2009 lalu, pemerintah memang mengumumkan kenaikan harga pembelian pemerintah atau HPP untuk gabah dan beras sebesar 10 persen.

Kenaikan itu meliputi gabah kering panen di petani dengan kadar air, maksimal 25 persen, dari 2440 rupiah per kilogram menjadi 2685 rupiah per kilogramnya. Sedang gabah kering dengan kadar hampa naik maksimal 10 persen, dari harga sebelumnya 2400 rupiah menjadi 2640 rupiah per kilogram.

Kenaikan juga dilakukan terhadap harga gabah kering giling di penggilingan dan gabah kering giling di gudang Bulog.

Menurut Ketua Umum Dewan Tani Indonesia Ferry Julianto, kenaikan HPP gabah dan beras itu tidak dirasakan manfaatnya bagi petani, selain karena momentum kenaikannya sudah terlambat, nilai kenaikan hanya 10 persen, juga karena pasar beras nasional sudah dikuasai mafia yang bisa mengendalikan harga beras setiap saat.

Kesemerawutan ini, menurut Ferry bisa diatasi jika Bulog benar-benar difungsikan sebagai pembeli gabah dan beras langsung dari petani.

Ferry tidak sependapat dengan Menteri Pertanian, bahwa kenaikan harga beras ini bisa kembali normal dengan melakukan operasi pasar.

Menurut Ferry, operasi pasar dan penyaluran raskin hanya bersifat instan. hal mendasar yang harus dilakukan pemerintah adalah memberantas mafia beras, karena merekalah yang mencekik petani, dengan kemampuan uangnya mengendalikan harga, demi keuntungan mereka. (Tim Liputan/Ijs)

Bookmark and Share