HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
FOKUS

Kelangkaan Jengkol

Harganya Tembus RP 60 Ribu Per Kilogram



Baca Juga:


Tags:

jengkol pete mahal

Berita HOT:

 

indosiar.com, Jakarta - (Jumat : 07/06/2013) Harga jengkol di pasar, kini menembus enam puluh ribu per kilogram dari harga normal dua puluh ribu per kilogramnya. Hal ini bukan hanya mengecewakan para penggemarnya, tapi juga membuat sejumlah pedagang pun terpaksa banting setir. Seperti di pasar Kramat Jati. Para pedagang sayur yang biasa menjadikan jengkol sebagai andalan jualan mereka, akhirnya meniadakannya. Kini, hanya ada satu pedagang di pasar tersebut, yakni Tukirah, yang masih bisa menghadirkan jengkol.

Tukirah mengaku, terpaksa membeli jengkol untuk melengkapi dagangannya. Biasa tiap harinya membeli jengkol 40 kilogram di pasar induk, kini hanya bisa membeli 10 kilogram. Menurut Tukirah, sebelum terjadi kenaikan, pasokan jengkol sudah mulai menurun.

Meskipun jengkol hanya menu sampingan, namun sejumlah pedagang mengaku banyak masyarakat yang mencari keberadaannya. Diah misalnya. Mengaku penggemar jengkol, dan merasa kehilangan dengan menghilangnya jengkol dari pasaran. Sekalinya ada, harganya melambung tinggi.

Kondisi serupa juga terjadi di Solo. Bahkan selain jengkol, harga sayur mayur lain juga ikut naik. Seperti di pasar Legi ini. Rata-rata sayur-mayur mengalami kenaikan seribu hingga dua ribu rupiah per kilogramnya. Harga cabe rawit putih maupun merah juga ikut naik. Yang sebelumnya 13 ribu rupiah, kini menjadi 18 ribu hingga 20 ribu rupiah per kilogram.

Sementara salah satu rumah makan Kalitan di Solo, saat ini akhirnya memilih menaikan harga per menu, lantaran sejumlah harga sayuran dan cabe mengalami peningkatan. Bahkan karena jengkol di Solo mengalami kelangkaan, di warung makan ini meniadakan menu sambel jengkolnya yang jadi andalan mereka. Diduga, langkanya jengkol di pasaran karena pasokan dari para petani jengkolpun sedikit. (Mohamad Subadri Arifqi/Ganug Nugroho Adi/Sup)

Bookmark and Share