indosiar.com, Majalengka - Kenaikan harga kedelai tak hanya membuat pengrajin tahu dan tempe berhenti berproduksi, sekitar 50 persen pabrik kecap di Majalengka juga telah gulung tikar. Meski memakai bahan baku kedelai hitam, namun harga komoditi ini juga mengalami kenaikan harga dua kali lipat.
Beginilah suasana di pabrik kecap Segitiga di Majalengka. Tak banyak aktifitas yang dilakukan para pekerja sejak harga kedelai hitam naik dua kali lipat. Beruntung pabrik ini masih memiliki stok kedelai hitam sebelum harga naik. Aktifitas para pekerja mengolah kedelai hitam menjadi kecap ini juga hanya sekedar menghabiskan stok lama.
Tak hanya produsen tahu dan tempe, pabrik kecap juga mengalami dampak kelesuhan meski memakai bahan baku yang berbeda. Tak hanya kedelai putih yang mengalami kenaikan tajam. Kedelai hitam yang merupakan bahan dasar pembuatan kecap juga naik dari 3500 rupiah menjadi 7000 rupiah perkilogram. Selain mahal, kedelai hitam juga mengalami kelangkaan. Kondisi ini membuat kolap industri kecap di Majalengka. Padahal Majalengka sendiri sejak dahulu terkenal sebagai kota kecap karena banyaknya industri rumahan kecap.
Namun kenaikan harga kedelai kali ini merupakan pukulan berat bagi para pemilik pabrik kecap. Di Majalengka sedikitnya terdapat 37 pabrik kecap. Namun sejak harga kedelai naik dua kali lipat, 50 persen pabrik kecap di Majalengka gulung tikar. Ratusan tenaga kerja terpaksa dirumahkan.
Disaat harga kedelai normalpun, kecap buatan industri rumahan Majalengka ini sebenarnya sudah sulit bersaing dengan merek-merek terkenal yang bertaraf nasional. Para pengrajin berharap pemerintah bisa segera menstabilkan kembali harga kedelai. Jika tidak, dalam waktu setengah tahun saja, industri kecap di Majalengka diperkirakan gulung tikar seluruhnya. (Masyuri Wahid/Sup)