indosiar.com, Jakarta - Untuk memberikan layanan transportasi massal kepada warga Jakarta, pemerintah DKI sampai saat ini telah membangun 10 koridor dari 15 yang direncanakan. Sementara itu dari 10 koridor, 7 telah beroperasi penuh, satu beroperasi setengah trayek, sementara 2 sisanya yakni koridor 9 dan 10 jurusan Pinang Ranti - Pluit dan Kampung Rambutan - Tanjung Priok belum beroperasi sama sekali.
Menurut Ketua Institut Study Transportasi, Darmaningtyas, tertundanya dua koridor tersebut beroperasi tidak efisien dan bentuk pemborosan APBD. Apalagi bila ada halte atau jalur yang sudah rusak sebelum digunakan. Efisiensi ini sebenarnya bisa diatasi bila ada kemauan dan ketegasan Pemda DKI.
Pemda DKI terlalu sibuk mengurusi penyelesaian konflik antara operator dengan Badan Layanan Umum, terkait perbedaaan harga tender koridor 4 sampai 7, sehingga tender untuk koridor 9 dan 10 jadi tertunda-tunda.
Sebenarnya bila tak ingin jalur nganggur, armada koridor lain bisa diperbantukan terutama diluar jam sibuk, sehingga tidak ada bus yang nganggur di pool dan ada pemasukan. Saat ini 50 persen pergerakan manusia di Jakarta menggunakan transportasi umum yang jumlahnya hanya 2 persen, dari kendaraan yang ada di Jakarta. (Ahmad Fauzan/Agus Rahayu/Sup)