HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
FOKUS

Bahasan Utama

Kampung Idiot, Segumpal Warga yang Ditinggalkan





indosiar.com, Jakarta -
Mendengar Ponorogo, tentu siapapun akan terbayang dengan keseniannya yang sudah memancanegara. Namun, ketenaran reog, tidak bisa menutupi  kenyataan menyedihkan, bahwa di daerah ini ada satu kampung yang sekitar 200 warganya menderita cacat mental serta fisik. Ironisnya lagi, kaum idiot ini tidak memiliki jaminan kesehatan masyarakat, yang selama ini kerap digembor-gemborkan sebagai program kemanusiaan untuk membatu rakyat miskin. Berikut liputannya.

Entah apa yang ada dipikiran pria bernama Samiun ini. Sepanjang hari ia hanya bergelut dan mandi pasir di dapur rumahnya di Desa Krebet, Kabupaten Ponorogo Jawa Timur.

Dengan mengenakan seragam sekolah yang sudah lusuh, pria berusia sekitar 25 tahun ini, hanya tersenyum, tanpa bisa mengeluarkan sepatah-katapun. Dan dia juga tidak bisa bergerak bebas, karena ia sedang dibelenggu. Ia selalu ingin menabrakkan diri terhadap apa saja yang ditemuinya.

Ya. Samiun hanyalah salah satu saja dari ratusan orang yang tersebar di empat desa, di Kabupaten Ponorogo yang menderita keterbelakangan mental yang sering dikenal dengan sebutan idiot. Samiun sendiri punya 4 saudara yang juga mengalami ganguan mental yang sama.

Empat saudaranya ini, tidak hanya buta aksara, bisu dan tuli, bahkan kakak tertuanya, bernama Sardi menderita kebutaan sejak lahir. Mereka menderita penyakit bawaan yang diwariskan dari kedua orangtuanya.

Di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur terdapat 4 desa yang dihuni 500-an orang yang menderita keterbelakangan mental. 224 jiwa diantaranya tinggal di Desa Krebet sebanyak 104 jiwa, dan Desa Sidoarjo sebanyak 120 orang.

Yang menyedihkan, rata-rata kaum terbelakang mentalnya ini, hidup dalam kemiskinan dan mayoritas warga idiot ini berusia produktif yaitu 30 hingga 40 tahun ke atas, dan sebagian kecil lagi adalah usia balita. Di sisi lain mereka juga tidak memiliki mata pencaharian tetap.

Untuk menopang kehidupan sehari hari, mereka hanya mengandalkan bantuan dari para tetanganya, baik berupa uang, makanan, perabot rumah tangga, serta pakaian.

Keseharian hidup mereka nyaris tak pernah merasakan kenyamanan layaknya orang lain. Umpamanya saja, bisa makan nasi dengan lauk ayam goreng atau ikan bakar. Satu-satunya kemewahan hidup yang mereka nikmati sejak zaman penjajahan hingga era kemerdekaan seperti sekarang ini, yakni kuliner, yang kesohor dengan sebutan nasi tiwul. Yakni makanan yang terbuat dari ketela pohon.
 
Ketela pohon ini, dipanen dari ladangnya sendiri, kemudian dikupas kulitnya, lalu dicuci dan dijemur, hingga menjadi makanan ternikmat dilidah mereka.

Lebih memilukan lagi, ternyata kaum idiot ini tak satupun yang memiliki Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), yang menjadi haknya untuk berobat secara gratis jika jatuh sakit.

Menurut Jemiran, mereka kaum idiot ini tidak memiliki kartu Jamkesmas, karena petugas kesulitan mendata mereka. Rata-rata mereka tidak memiliki kartu keluarga atau data lainnya yang akurat.

Meski telah berpuluh puluh tahun terdapat warga yang mengalami gangguan kesehatan seperti ini, namun hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi berdasarkan penelitian dari pihak berwenang, mengenai penyebab timbulnya penyakit tersebut.
 
Yang diketahui warga desa setempat hanyalah, munculnya penyakit tersebut berdasarkan warisan dari nenek moyangnya. Meski demikian, ada pendapat yang menyatakan timbulnya penyakit itu karena terjadi perkawinan sedarah, kekurangan gizi, serta kurangnya asupan zat yodium dalam jangka panjang.

Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah, agar cap negatif ini tidak terus mendera bumi reog. Mulai dari pemberian bantuan makanan bergizi hingga pemeriksaan kesehatan rutin.

Kabarnya pemerintah, akan membangun rumah kasih sayang yang akan dilengkapi dengan makanan maupun lauk pauk, agar warga idiot ini bisa beraktivitas normal. (Tim Liputan/Sup)

Bookmark and Share