indosiar.com, Jakarta Timur - Aparat kepolisian terus mengembangkan kasus mutilasi bocah bernama Ardiansyah, yang bagian tubuhnya ditemukan Jumat (8/1/2010) pekan lalu di tepi Kanal Banjir Timur Kampung Ujung Menteng, Cakung, Jakarta Timur.
Tertangkapnya sang tersangka pelaku, Baekuni alias Babeh, menguak fakta baru. Pria yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang asongan itu, kepada penyidik mengaku juga melakukan tindakan yang sama terhadap dua bocah lainnya, pada tahun 2007 dan 2008 lalu. Dan potongan tubuh mereka juga dibuang, ke tempat yang menurutnya, tidak akan mengungkap identitasnya sebagai pelaku.
Menurut pihak Polda Metro Jaya, dua korban lain korban Babeh bernama Adi, 12 tahun dan Arif, 6 tahun.
Untuk korban Adi yang dibunuh sekitar Juli 2007, setelah dimutilasi potongan tubuhnya dibuang pelaku di dua tempat, di Pasar Klender, dan di Kali Rawa Terate, Pulogadung, Jakarta Timur. Sementara untuk korban Arif yang dibunuh sekitar Mei 2008, tubuhnya dipotong lima bagian. Empat potongan diletakkan di Terminal Pulogadung, sementara kepala dibuang ke Kali Rawa Terate.
Jika pemirsa masih ingat, saat ditemukan tahun lalu, korban Arif ini sempat diduga bernama Asep, namun belakangan Asep ditemukan dalam keadaan masih hidup.
Sama seperti korban Ardiansyah, kedua korban merupakan pengamen di terminal Pulogadung yang berada dibawah koordinasi Baekuni.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Boy Rafli Amar mengungkapkan, tindakan Baekuni bermotif kelainan seksual dan kejiwaan. Pelaku mendapat kenikmatan saat menyiksa korban dan kemudian menyodominya.
Ada pengakuan, ia melakukan itu karena semasa kecil pernah disodomi secara paksa, di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Baekuni, patut diduga mengidap kelainan jiwa. Hasil penelusuran polisi mengungkap, ia membunuh Ardiansyah dengan cara menjerat leher sang bocah dengan tali rafia, lalu memotong tubuh anak itu menjadi lima bagian, dan ia buang potongan-potongan itu di dua tempat terpisah.
Modusnya sama, mengajak calon korban tinggal di rumahnya, lalu diajak sodomi, untuk kemudian dibunuh jika tak mau melayaninya.
Kasat Jatanras Polda Metro Jaya, Akbp Noco Afinta mengatakan, pihaknya terus menelusuri kemungkinan adanya korban Baekuni yang lain.
Seorang bocah berusia 12 tahun bernama Wira yang pernah tinggal di rumah tersangka, merupakan salah satu yang dilaporkan hilang orang tuanya di Pandeglang, Banten.
Untuk menguak misteri pembunuhan ini, kepolisian menurut Niko, akan memeriksa kejiwaan Baekuni, karena berdasarkan pengakuan tersangka, ia mendapat kepuasan melihat korbannya menderita.
Kasus mutilasi kembali marak dan membuat para orang tua gelisah. Selang empat hari setelah prilaku sadis Baekuni terungkap, pihak kepolisian Jakarta Utara, telah pula meringkus seorang pemuda, yang dibekuk lantaran menyodomi 14 bocah ingusan.
Pemuda brinisial APS ini, warga Rawa Badak, Koja, Jakarta Utara, dan berprofesi sebagai kernet metromini jurusan Tanjung Priok - Pulogadung, Jakarta Timur.
Prilaku seksual Baekuni ini, ditanggapi berbeda dua kriminolog.
Menurut Adrianus Meliala, tindakan Baekuni belum tentu mencerminkan kelainan jiwa laki-laki, karena pola yang dipakai bukan pola baru dan sangat sederhana.
Pandangan berbeda diutarakan kriminolog Erlangga Masdiana, yang melihat prilaku Baekuni ini, apapun bentuknya, sudah menunjukkan ketidaknormalan jiwa laki-laki itu. Karakteristik pria ini menurut Erlangga agak luar biasa.
Terlepas dari normal tidaknya prilaku tersangka Baekuni, kasus ini seperti memberi pelajaran kepada kita, terutama kalangan orang tua, bahwa berhati-hatilan menjaga anak, terutama saat anak masih belia dan belum bisa menjaga diri.
Karena di luar rumah, jauh dari pengawasan orang tua, bahaya mengancam keselamatan sang anak. Berbagai ancaman itu, tak hanya dapat menghancurkan mental dan masa depannya, tapi juga jiwanya.
Pengalaman bicara, anak yang menjadi korban sodomi, mengalami trauma berkepanjangan, hingga masa dewasa. Padahal mereka harapan masa depan kehidupan.(Tim Liputan/Ijs)