indosiar.com, Jakarta - Warga yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung bisa dibilang akrab dengan banjir. Namun bencana banjir akibat meluapnya sungai mengalir di ibukota tersebut tetap saja membuat warga was-was dan kerepotan. Setiap banjir datang warga harus siap mengungsi dan ketika mulai surut warga disibukkan oleh sisa-sisa lumpur yang mengotori rumah.
Banjir yang mengenangi kawasan langganan banjir sepanjang aliran sungai Ciliwung selama dua pekan kini mulai surut. Namun surutnya banjir kiriman ini tetap saja membuat warga was-was karena banjir kerap datang kendati hujan tidak turun di Jakarta.
Sebut saja Isa, warga Kampung Pulo, Jakarta Timur yang sempat mengungsi ketika banjir melanda. Kendati sudah surut namun bencana banjir tetap menyisakan masalah. Lumpur yang ditinggalkan sisa banjir bisa mencapai 10 hingga 20 centimeter tebalnya. Bahkan aktifitas sekolah anak-anak juga terganggu. Selain menganggu kehidupan sehari-hari warga, banjir juga membawa ancaman penyakit.
Ibu Sapinah yang tinggal sejak tahun 1966 lalu mengaku selalu terserang penyakit tenggorokan saat banjir mengenangi rumahnya. Sebenarnya baik Isah, Sapinah dan sebagian warga lainnya enggan tinggal dikawasan langganan banjir ini, namun tidak ada pilihan lain bagi mereka. Mereka hanya berharap pemerintah DKI Jakarta mau membantu merelokasi mereka. (Sujito Santoso/Sup)