HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
FOKUS
Sebelum Menjadi Presiden

Pak Harto dan Karier Militernya



indosiar.com, Jakarta - Almarhum Jenderal TNI Soeharto dikenal sebagai prajurit yang memiliki disiplin tinggi dan tekun. Pak Harto merintis karier militernya dari tingkat bawah, hingga menjadi Panglima TNI Angkatan Darat pada tahun 1966. Pak Harto juga pernah menjadi anggota pasukan sukarelewan kepolisian Jepang (Keibuho).

Tahun 1940, Pak Harto masuk sekolah militer di Gombong, Jawa Tengah, selama 6 bulan diikuti latihan dasar kemiliteran. Usai itu, beliau melanjutkan pendidikan militernya Sekolah Kader, masih di Gombong.

Selepas itu, beliau ditempatkan di Batalyon XII di Rampal, dekat Malang, Jawa Timur, dengan pangkat kopral. Dengan prestasi yang memuaskan, dalam waktu singkat pangkatnya naik menjadi sersan.

Disaat Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942, karier militer Pak Harto, sempat terhenti, sebelum akhirnya masuk menjadi sukarelawan pasukan kepolisian Jepang (Keibuho). Hanya setahun, ia sudah diangkat menjadi suranjo, komandan pleton dan dikirim ke kompi PETA, yang bermarkas di Wates, tak jauh dari Yogyakarta.

Tahun 1944, berlatih Pak Harto berlatih strategi tempur di Bogor dan kemudian diangkat menjadi Judanjo, komandan kompi. Memasuki awal kemerdekaan Indonesia, Pak Harto secara resmi masuk tentara yang bernama BKR (Badan Keamanan Rakyat), pada tanggal 5 Oktober 1945 di Yogyakarta.

Anggotanya para mantan PETA yang bergabung kembali dengan komandan Omar Slamet. Kematangan Pak Harto dalam bertempur ditempa di medan laga. Seperti pertempuran dengan garnisun Jepang yang dipimpin langsung oleh Pak Harto. Beliau berhasil melucuti persenjataan Jepang. Usia Pak Harto saat itu masih 24 tahun. Sebuah usia yang relatif muda, namun sudah menunjukkan kematangan bertempur.

Karier militer Pak Harto tumbuh seiring kematangannya bertempur yang teruji di medan laga. Saat menyandang letnan kolonel, beliau dipercaya Bapak Tentara Nasional Indonesia, Jenderal Soedirman menjadi komandan presiden.

Disela-sela perjuangannya, Pak Harto melangsungkan pernikahannya dengan Siti Hartinah, seorang ningrat, anak pegawai Mangkunegaran, Soemoharyomo, pada tanggal 26 Desember 1947. Saat itu, Pak Harto berusia 26 tahun dan Bu Tien, 24 tahun. Tiga hari sesudah perkawinan, kedua mempelai pindah ke Yogyakarta. Perjalanan militer Pak Harto berlanjut di kota ini.

Dalam satu perundingan dengan Kolonel Sri Sultan Hamengkubuwono IX, telah diambil keputusan berani untuk mengadakan serangan umum terhadap Yogyakarta dan menduduki kota, walau hanya beberapa jam.

Adalah 1 Maret 1949, pukul 6 pagi, bersamaan dengan raungan suara sirene yang menandai berakhirnya jam malam, serangan ini dimulai. Begitu mendadak sehingga pihak Belanda tidak dapat berbuat banyak. Kesuksesan ini menambah deretan prestasi militer Pak Harto.

Memasuki tahun 1960, Pak Harto resmi mendapat pangkat Brigadir Jenderal dan diangkat menjadi Panglima Korps Cadangan Umum Angkatan Darat. Tantangan yang lebih berat dibebankan pada perwira yang besar di lapangan, Pak Harto dipercaya menjadi Panglima Mandala, untuk membebaskan Irian Jaya.

Sukses di timur Indonesia, membawa Pak Harto menjadi Panglima Kostrad di tahun 1963. Karier militer Pak Harto terus berjalan, dengan segala kepatuhannya kepada pimpinan. Prosesi keberangkatan Jenazah Pak Harto dari Jalan Cendana. (Tim Liputan/Ijs)

 

 

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code: