HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
FOKUS
Nasib WNI di Jepang

Pasca Gempa dan Tsunami



indosiar.com, Jakarta - Gempa berkekuatan 9 skala richter yang disusul tsunami di sejumlah propinsi di  Jepang, pada 11 Maret lalu, menyisakan duka mendalam bukan hanya bagi warga Jepang, tapi juga warga negara Indonesia yang sedang beraktivitas disana, baik sebagai tenaga kerja maupun sebagai mahasiswa. Bahkan hingga tiga hari pasca kejadian, masih ada sejumlah warga Indonesia yang belum diketahui nasibnya. Sementara sejumlah warga Indonesia yang sudah berhasil kontak dengan anggota keluarganya di Jepang, kini dicekam kecemasan, karena khawatir gempa dan tsunami susulan.

Inilah tsunami yang menerjang belahan timur laut Jepang di propinsi Sendai, di pulau utama Honshu  Jepang. Tsunami ini dipicu gempa berkekuatan 9 pada skala richter. Bahkan peristiwa yang terjadi 11 Maret lalu, tercatat sebagai gempa dan tsunami terbesar dalam sejarah gempa di Jepang, sejak 1.200 tahun terakhir, dan tercatat sebagai salah satu gempa terbesar di dunia, sejak dimulainya pencatatan  gempa modern.

Ketinggian gelombang laut yang mencapai 10 meter dengan kecepatan gelombang sekitar seribu kilometer perjam, menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur di sejumlah wilayah yang diterjang gempa dan tsunami, seperti Miyagi, Sendai dan Iwate. Gempa dan tsunami kali ini juga merenggut ribuan jiwa manusia, dan merusak reaktor nuklir di Fukumi.

Selain warga Jepang yang terkena musibah, gempa dan tsunami ini juga membuat cemas sejumlah warga Indonesia, yang memiliki keluarga di wilayah gempa. Kecemasan tersebut antara lain dirasakan Sujak, Dusun Ndalem, Desa Prunggahan Kulon, kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Anaknya Nanto, 32 tahun yang menjadi ABK sebuah perusahaan pelayaran, hingga saat ini belum bisa dihubungi. Nanto bekerja di Jepang sejak tahun 1998, dan baru sekali pulang ke Indonesia.

Kecemasan  juga dialami pihak sekolah menengah kejuruan negeri satu kota Sukabumi, Jawa Barat, yang tengah mengirimkan 122 siswanya untuk magang kerja di sejumlah perusahaan di Jepang. Dari sejumlah siswa tersebut, baru 10 yang bisa dihubungi dan diketahui keberadaannya, pasca gempa dan tsunami.

Wahyuto menambahkan, pihaknya juga sudah menghubungi agen yang memberangkatkan para siswa, yakni Japan Indonesia Economic Center, yang berkantor di Jakarta. Namun sejauh ini belum  mendapatkan informasi.

Sementara dari Jember, berita gembira diterima sejumlah orang tua siswa Sekolah Menengah Kejuruan  Perikanan dan Kelautan atau SMKPK, yang dikirim untuk magang kerja di perusahaan pelayan di Jepang.  Kesembilan siswa SMKPK tersebut dikabarkan selamat, setelah sempat terombang ambing di tengah laut.

Kepastian keselamatan para siswa tersebut disampaikan pihak sekolah dengan mendatangi rumah keluarga siswa. Salah satu yang dikunjungi pihak sekolah, Senin kemarin adalah rumah orang tua siswa Syahraful Ulum, di Desa Wonosari, Kecamatan Puger, Jember. Sementara pihak sekolah menerima kabar keselamatan siswa dari email yang dikirim seorang siswa. Meski demikian, pihak keluarga siswa mengaku masih menghawatirkan keselamatan anak mereka.

Menurut Kepala Sekolah SMKPK, Kuncoro, sekolahnya mengirim 9 siswanya yang terdiri dari 5 siswa  dan 4 siswi, magang kerja sebagai ABK di sebuah perusahaan pelayaran, sejak setahun lalu. Sebelumnya pihaknya juga telah mengirim puluhan siswa lainnya untuk magang kerja di Jepang, namun mereka telah
kembali ke tanah air, sebelum gempa dan tsunami 11 Maret lalu.

Nasib warga Indonesia di Jepang, mendapat perhatian serius dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.  Selain menyampaikan duka mendalam kepada pemerintah dan rakyat Jepang, atas musibah yang terjadi,  presiden juga menginstruksikan menteri dan instansi terkait, untuk mengirim kontingen bantuan dan tim medis.

Bahkan sebelum memimpin rapat kabinet terbatas bidang ekonomi di Istana Bogor, Senin pagi, presiden juga meminta Menteri Luar Negeri mendata para WNI di Jepang, dan memastikan nasib mereka pasca gempa dan tsunami.

Menjawab permintaan presiden, Wakil Menteri Luar Negeri, Triyono Wibowo, memastikan akan memulangkan 121 warga Indonesia, yang selamat dari gempa dan amukan tsunami. Satu warga Indonesia  bernama Vera Yulianti, mahasiswi fakultas sastra Universitas Tohoku, kini dirawat di sebuah rumah sakit,  karena mengalami cedera tulang punggung.

Para WNI yang dipulangkan ini umumnya menetap di Sendai, yang merupakan daerah paling parah dilanda tsunami. Bahkan umumnya tempat tinggal mereka luluh antak diterjang tsunami.

Dari hasil pendataan sementara pihak Kemenlu, dari 31 ribu WNI yang tersebar di seluruh  wilayah di Jepang, belum ada laporan WNI yang dikabarkan tewas. Kemenlu baru mencatat  4 WNI yang menjadi    ABK di sebuah perusahaan  pelayaran, yang hingga kini belum ditemukan.

Tentu saja memastikan nasib dan keselamatan warga Indonesia di Jepang, pasca gempa dan tsunami,  merupakan tindakan yang harus dilakukan  pemerintah. Namun yang tidak kalah pentingnya, adalah  menjadikan peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang, termasuk penanganan para korban,  sebagai pelajaran penting bagi kita semua. Mengingat gempa dan tsunami sangat berpotensi terjadi di  tanah air, yang merupakan negara kepulauan. (Tim Liputan/Sup)

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code: