indosiar.com, Tangerang - Situ Gintung yang dibangun pemerintah Belanda tahun 30 an, awalnya memang difungsikan sebagai waduk untuk irigasi dan pengendali banjir. Namun seiring makin pesatnya pertumbuhan penduduk dikawasan Gintung, waduk yang dulunya seluas 30 hektar kini menyusut hingga 21 hektar akibat pendangkalan dan terdesak oleh pembangunan pemukiman. Dan inilah faktanya bahwa waduk dimanapun di Indonesia selalu menghadapi problem minimnya perawatan dan banyaknya rumah warga.
Nama Situ Gintung sepekan terakhir memang tengah populer. Waduk yang sebelumnya dikenal sebagai tempat wisata ini menjadi pemberitaan media massa nasional, setelah jebol pada Jumat dini hari lalu. Dampaknya sangat dasyat, lebih dari 100 jiwa melayang, puluhan hilang serta 300 an rumah luluh lantak diterjang air bah.
Korban terbanyak berasal dari Kampung Poncol dan Kampung Gintung. Kini waduk seluas 21 hektar ini telah kosong, seluruh airnya terkuras habis tak nampak lagi keindahan yang dulu menjadi daya tarik. Sisa-sisa keganasan air bah masih terlihat jelas disana-sini. Dinding tanggul yang jebol juga masih mengganga, rumah-rumah warga yang hancur menjadi saksi ganasnya air bah.
Situ Gintung dulunya adalah danau alami. Tahun 1933, pemerintah Belanda membangun Situ Gintung menjadi waduk sebagai fasilitas irigasi dan pengendali banjir. Dengan kedalaman rata-rata 4 hingga 5 meter, Situ Gintung dilengkapi dengan celah melimpah atau spillway sepanjang 5 meter. Daya tampungnya juga cukup besar sekitar 1 juta meter kubik air.
Tanah Situ Gintung terbentuk dari endapan volkanik, namun kontruksinya bukan buatan tangan ahli pengairan. Karenanya tidak heran pasca bencana, banyak lahan yang masih labil dan rawan longsor.
Semula luas Situ Gintung mencapai 30 hektar, namun berkurang akibat pendangkalan dan penyusutan karena maraknya pembangunan rumah warga. Situ Gintung telah menelan korban jiwa, pembelajaran yang sangat berharga bagi pemerintah maupun masyarakat. (Astrid Farma Putri/Iwan Agung/sup)