indosiar.com, Jakarta - Kritik para pengamat dan lawan politiknya atas kinerja pemerintahannya membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono gerah. Seusai sidang kabinet Senin (02/02/09) petang, Presiden meminta kepada para pengkritiknya untuk melihat kinerja pemerintahan berdasarkan hasil statistik dari Badan Pusat Statistik yang dinilainya netral dan apa adanya.
Dalam jumpa pers usai memimpin rapat kabinet terbatas bidang ekonomi di Istana Presiden Jakarta, Presiden SBY menampik anggapan pengamat yang mengatakan daya beli masyarakat tetap rendah meski pemerintah telah menurunkan harga BBM hingga tiga kali.
Pemerintah mengklaim, pertumbuhan daya beli masyarakat lebih tinggi dari kenaikan harga bahan pokok. Ini dibuktikan dengan kenaikan pendapatan perkapita masyarakat tahun 2004 hingga 2008 sebesar 18,5 persen, sementara kenaikan bahan pokok rata-rata 11,5 persen. Kenaikan upah terendah selama periode yang sama mencapai 78 persen sementara harga sembako 68 persen.
Presiden SBY menambahkan, harga minyak dunia yang cenderung naik mengakibatkan harga premium juga mengalami kenaikan. Sementara harga solar cenderung turun dan harga minyak tanah relatif stabil. (Budiono/Sup)