indosiar.com, Washington - Berpuasa dinegara modern, seperti Amerika Serikat yang menduduki mayoritas non muslim dan jauh dari sanak saudara bukanlah perkara mudah bagi umat Islam, namun kondisi itu justru banyak dijadikan sebagai tantangan agar bisa menjalankan puasa dengan khusyuk.
Kendati jumlahnya hanya mencapai 8 juta orang diseluruh Amerika, namun selama Ramadhan banyak muslim di Amerika tetap berusaha menjalani ibadah, seperti dinegara asalnya masing - masing. Misalnya saja berbelanja di toko daging halal atau berbelanja makanan manis untuk persiapan buka puasa serta sholat berjamaah.
Namun rasa rindu menjalankan Ramadhan bersama keluarga pasti tetap ada, seperti dikemukakan Aminah Tamboush seorang muslim asal Senekal. Selama bulan Ramadhan Masjid tertua di Washington DC biasanya menjadi penuh, baik saat sholat Jum'at maupun saat sholat teraweh.
Iman Abdulla Khouj Direktur Islamic Center di Washington DC mengatakan, perbedaan memberikan nuansa tersendiri. Ramadhan juga berarti mendidik masyarakat Amerika mengenal agama Islam, karena itu setiap malam Masjid mengundang warga non muslim untuk berbuka puasa bersama.
Muslim di Amerika khususnya pelajar memang menghadapi tantangan khusus dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan. Mereka tetap harus beradaptasi dengan kerap kehidupan Amerika yang sibuk tetapi tetap beribadah puasa. Disisi lain ini pemberi nilai positif bagi muslim di Amerika karena membuat banyak orang Amerika ikut menghargai bulan Suci Ramadhan. (Tim Liputan/Dv).