indosiar.com, Jakarta - Tanggal 1 Januari lalu, pemerintah mulai memberlakukan perjanjian pedagangan bebas dengan Cina. Dan mulai saat itu, kita bersiap-siap dibanjiri produk Cina dengan harga murah. Ini tentu mengkhawatirkan, karena akan menghancurkan industri menengah kebawah yang belum siap bersaing dengan Cina, sehingga sebagian kalangan meminta pemerintah agar menunda perjanjian perdagangan bebas ini.
Murah memang salah satu keunggulan produk Cina, dan soal harga itu juga yang menyebabkan ketakutan, bila produk Cina ini menyerbu pasar Indonesia.
Barang-barang Cina sebenarnya sudah lama beredar di Indonesia. Kalau Anda ke Poncol di Senen, Jakarta Pusat, Anda bisa temukan beragam perkakas buatan Cina, mulai dari obeng hingga gergaji.
Cina saat ini, ibarat raksasa yang sedang bangkit. yang diserbu tidak hanya Indonesia dengan produk murahnya, melainkan juga negara-negara industri yang berabad-abad menguasai dunia dengan merek-merek terkenal.
Dan mulai 1 Januari ini, Indonesia mulai memberlakukan AFTA atau perjanjian perdagangan bebas yang membebaskan tarif bagi produk Cina yang masuk ke Indonesia.
Invasi produk negara tirai bambu itu, bisa kita lihat di Pasar Gembrong, Jakarta Timur. 75 persen mainan yang dijual di sini buatan Cina. Selain murah, mainan asal Cina lebih variatif dan mengikuti perkembangan jaman.
Inilah yang dikuatirkan DPR RI. Membanjirnya produk Cina bisa menghancurkan sebagian industri nasional, sehingga DPR meminta agar pemerintah menunda perdagangan bebas ini.
Tidak heran bila ribuan buruh di Bandung, belum lama memprotes kebijakan pemerintah yang memberlakukan perdagangan bebas 1 Januari lalu. Mereka mengkhawatirkan serbuan tekstil Cina bisa menghancurkan industri tekstil lokal dan ujung-ujungnya menambah pengangguran.
Sulitnya mengalahkan produk Cina, dialami sejumlah pedagang di Pasar Grosir Tanah Abang. Delapan puluh persen pedagang disini menjual pakaian dari Cina. Selain murah, model pakaian Cina terus mengikuti perkembangan jaman. Namun pakaian asal Cina ini juga mengkhawatirkan mereka.
Tidak itu saja, produk Cina juga merambah hingga ke produk kerajinan, seperti barang pecah belah di kawasan Pasar Jembatan Lima, Jakarta Barat.
Produk pecah belah Cina ini sangat digemari, karena harganya lebih murah.
Barangkali para pembatik di Kampung Laweyan, Solo ini belum menyadari, bahwa tradisi membatik yang mereka warisi turun temurun tinggal menunggu waktu. Serbuan batik Cina dengan harga murah akan merumahkan para pembatik ini.
Menunda perdagangan bebas tidak menjawab persoalan sebenarnya. Kebijakan pemerintah menurunkan bunga serta memangkas pungutan yang tidak penting, akan membantu industri menengah kebawah. Bila tidak mereka akan tergilas dalam persaingan.(Tim Liputan/Ijs)