indosiar.com, Sumba Timur, NTT - (Kamis, 09.02.2012) Naik dan menuruni bukit hanyalah sebagian medan yang harus ditempuh para pelajar di pedalaman Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, ini. Sebagian bahkan bertelanjang kaki, untuk berjalan sekitar 2 jam demi tiba di sekolah mereka.
Di sejumlah kecamatan, bahkan para pelajar harus menyebrangi sungai, karena tidak ada jembatan. Meski melelahkan dan berisiko, toh anak-anak ini tidak pernah menyerah.
Para gurunya pun setali tiga uang. Tenaga pengajar yang kebanyakan masih berusia 23 tahun ini harus berjalan kaki selama berjam-jam dan menyebrangi sungai menuju sekolah tempat mereka mengajar.
Para guru muda tersebut merupakan peserta program sarjana pendidikan mengajar di daerah Tiga-T atau S-M-Tiga T, yang diselenggarakan pemerintah lewat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bersama sejumlah LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan). Pesertanya berasal dari berbagai perguruan tinggi tanah air, seperti misalnya dari Universitas Negeri Surabaya, atau Unesa. 241 guru dari Unesa disebar ke pedalaman Sumba Timur untuk mengajar selama satu tahun.
Setelah setahun, para guru muda itu akan kembali ke Surabaya untuk mengikuti pendidikan profesi guru. Sekolah yang ditinggal akan diisi oleh guru baru. (Medi Trianto dan Ahmad Hadiyin/Sup)