indosiar.com, Purwakarta - Menjadi juru periksa rel kereta api barangkali pilihan hidup yang sulit. Besarnya tanggungjawab atas keamanan rel kereta, memaksa bertugas kendati dalam cuaca yang tidak bersahabat. Ironisnya, jaminan kesejahteraan untuk mereka kurang memahami.
Dengan bermodalkan senter, bendera merah dan hijau, Udik Suminta, pria paro baya ini berjalan menyusuri panjangnya rel kereta api dan memeriksa kondisi rel yang dilewati. Sesekali ia berhenti jika menemukan rel yang mencurigakan. Setiap kali bertugas, pria berusia 54 ini berjalan sedikitnya 12 kilometer membelah gelapnya malam.
Udik Suminta adalah salah satu dari ratusan juru periksa rel kereta yang bertugas memastikan keamanan kondisi rel kereta api setiap malam. Pria yang telah dikaruniai 4 orang anak ini mengaku sudah 34 tahun bekerja sebagai juru periksa rel.
Saat ini Udik Suminta bertugas di perlintasan kereta api antara Stasiun Sadang menuju Stasiun Cibungur, Cikampek. Sayangnya, tugas dan tanggungjawab sebagai juru periksa rel yang sangat berat tidak sebanding dengan upah yang diterimanya. Meski telah 34 tahun bekerja, Udik Suminta ternyata masih menumpang dengan menempati tanah milik PJKA di Kampung Cikompak Mulia Mekar, Babakan Cikao, Purwakarta.
Dengan gaji 1 juta 400 ribu rupiah, tanpa tunjangan apapun, Udik merasa kesulitan untuk menutup kehidupan keluarganya. Udik Suminta merupakan potret buram petugas juru periksa rel yang dibebani tanggungjawab yang sangat besar atas keselamatan perjalanan kereta api. (Tim Liputan/Sup)