HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
FOKUS
Kekurangan Yodium

Puluhan Balita Alami Keterbelakangan Mental



indosiar.com, Cirebon -  Masyarakat terbiasa menggunakan garam kasar atau garam krosok tanpa yodium yang biasa digunakan untuk industri.

Beginilah kondisi balita dan anak anak penderita keratin, atau kekurangan yodium. Mereka mengalami pertumbuhan yang lambat. Tidak hanya fisik, namun perkembangan mental juga terhambat.

Dalam tahap yang lebih parah, tubuh anak anak ini menjadi kerdil mereka tidak dapat bicara, meski sudah bukan balita. Agung misalnya, sekilas masih seperti bayi usia 2 tahun. Namun ternyata sudah 8 tahun. Hingga kini Agung belum bisa bicara.

Agung tidak sendiri, sedikitnya 26 di Kabupaten Cirebon menderita Keratin atau kekurangan yodium. Angka sesungguhnya mungkin lebih banyak, karena masih banyak warga yang enggan memeriksakan kondisi anaknya ke puskemas.

Jumlah penderita terbanyak terdapat di desa Penpen, kecamatan Mundu, 5 anak balita dalam kondisi cukup parah, hingga harus dibawa ke balai penelitian karena kekurangan yodium atau BPGQ untuk menjalani terapi.

Penyakit keratin disebabkan kebiasaan masyarakat mengkonsumsi garam yang tidak beryodium. Masyarakat banyak yang mempergunakan garam kasar, atau garam krosok yang biasa dipakai untuk keperluan industri.

Meski terlihat sepele, namun banyak masyarakat yang mengabaikan penggunaan garam beryodium, apalagi dukungan pemerintah daerah untuk pengadaan garam beryodium masih belum menjadi prioritas.

Sebagian pemerintah daerah bahkan terlalu sibuk membangun proyek prestisius bersifat fisik.(Masyuri Wahid/Her)

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code: