indosiar.com, Jakarta - Mantan Presiden Soeharto telah wafat pada hari Minggu 27 Januari 2008 kemarin, sekitar pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta setelah mendapat perawatan di rumah sakit ini selama 24 hari.
Sejak menyatakan mundur sebagai Presiden Republik Indonesia tangga 21 Mei 1998, Bapak Haji Muhammad Soeharto telah berulang kali dirawat di rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang memburuk.
Riwayat rawat inap di Rumah Sakit Pusat Pertamina ini pertama kali terjadi pada tanggal 20 hingga 30 Juni 1999 akibat stroke ringan. Di tahun 2001, kesehatan mantan Presiden Soeharto kembali memburuk hingga harus tiga kali dirawat inap. Bulan Juni tahun 2001, mantan Presiden selama 32 tahun ini harus menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung permanen.
Tahun 2004, ayah 6 orang anak ini kembali dirawat di rumah sakit karena mengalami pendarahan di usus besar. Akibatnya kadar sel darah merah merosot drastis hingga hanya 6,3 gram desiliter.
Penyakit yang sama kembali kambuh pada tahun 2005, sehingga penguasa Orde Baru kembali dirawat selama 6 hari. Pada bulan November di tahun yang sama, Soeharto kembali dirawat karena kelelahan.
Tahun 2006, pencernaan mantan presiden ini kembali bermasalah. Tim dokter menemukan 35 titik pendarahan di usus. Untuk menyelamatkan nyawa bapak pembangunan ini tim dokter terpaksa memotong usus pak Harto hingga 40 centimeter.
Memasuki hari ke 4 di tahun 2008, pria yang bulan Juni mendatang genap berusia 87 tahun ini kembali dilarikan ke rumah sakit karena fungsi jantung, paru dan ginjal yang menurun. Masa kritis tidak pernah bisa dilewatinya. Berbagai alat dipasang untuk menyelamatkan nyawanya. Namun Pak Harto akhirnya harus juga berpulang ke Rahmatulloh. (Tim Liputan/Sup)