indosiar.com, Cirebon - (Selasa:27/09/2011) Kasus bom bunuh diri di Gereja Kepunton, Solo Jawa Tengah mengundang perhatian banyak pihak. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Agil Siradz menegaskan tindak kekerasan bukan perilaku Islami. Sedangkan Ahmad Yosefa alias Hayat yang menjadi terduga bom bunuh diri di Solo ternyata sering ke rumah neneknya di kecamatan Losari, Cirebon setelah menjadi buron kasus bom bunuh diri di Cirebon.
Inilah desa Astana, Kecamatan Losari kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Disinilah Ahmad Yosefa alias Hayat lahir dan dibesarkan. Terduga pelaku bom Gereja Bethel Solo itu diketahui warga sering datang ke rumah ini yang ditempati neneknya yang sudah lanjut usia saat ia sudah berstatus buronan kasus peledakan bom di masjid polres Cirebon beberapa waktu lalu.
Terakhir kali warga melihat Yosefa mengunjungi neneknya sebelum lebaran sebulan yang lalu. Yosefa sempat menghabiskan masa kecilnya di rumah ini sebelum pindah ke kota Cirebon saat menginjak kelas I SLTP.
Di kampung ini, Yosefa dikenal dengan nama Ahmad. Sejak Yosefa disebut sebut sebagai pelaku peledakan bom di Solo, rumah ini terlihat sepi.
Sementara itu Solo, Jawa Tengah, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Agil Siraz siang tadi mengunjungi Gereja Behtel Injil Sepenuh Kepunton lokasi Yosefa melakukan aksi bom bunuh diri. Kepada para tokoh agama setempat, Said Agil meyakinkan bahwa tindakan bom bunuh diri bukanlah perilaku Islam yang cinta damai.
Berbagai bentuk aksi kekerasan yang mengatasnamakan jihad bukan berasal dari Al Quran. Begitupun saat berkunjung ke rumah sakit, Said Agil Siraz berdialog dengan para korban ledakan yang masih dirawat.
Selanjutnya atas nama PBNU Said Agil mengajak seluruh ormas Islam untuk bersama sama menggalang toleransi dan kerukunan antar umat beragama serta tidak mudah terprovokasi dengan aksi teror.(Masuri Wahid/Ganuk Nugroho Adi/Her)