HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
FOKUS
Panik Pacar Hamil

Sekeluarga Dibantai




indosiar.com, Jakarta
- Ahmad Fifki. Usianya masih muda, tapi soal mental jangan dikira. Warga Desa Wanarejan Pemalang ini, menjadi tersangka, dan kasusnya tidak main-main. Bersama pacarnya Reni Agustina, ia membantai satu keluarga. Keluarga majikannya sendiri.

Empat orang, ia habisi nyawanya dalam semalam. Sarminah, Winda, Mundri dihantam dengan kayu saat tidur pulas, sedang Gina yang masih balita, dibekap dengan bantal.

Rifki melakukan tindakan kejinya bukan karena sakit hati, tapi karena panik, Reni pacanya sedang hamil dan ia tidak punya uang. 17 Mei, hari dimana ia dan Reni mengeksekusi keluarga majikannya.

Rifki mengakui, di malam kejadian ia tidak memikirkan apa-apa kecuali bagaimana mendapatkan uang. Kasus ini, mendapat perhatian besar masarakat di Jawa Tengah, terutama warga Desa Cokro Utara di Kelurahan Mulyaharjo, Pemalang, saat mengetahui tetangga mereka, Sarminah, tewas dibantai bersama anaknya Winda, cucunya yang masih berusia sembilan bulan, dan juga Mudri, pembantunya.

Polisi awalnya menduga kematian kempat  korban karena bunuh diri, karena tidak ada petunjuk kekerasan, kecuali sepeda motor yang hilang. Tetangga mengenal baik keluarga Sarminah yang statusnya janda. Kalaupun ada keributan, itu antara Winda dan suaminya yang ingin minta bercerai.

Tetapi perlahan tapi pasti, polisi mulai menemukan titik terang, dan dugaan bunuh diripun mulai kabur. Itu setelah polisi memeriksa sejumlah saksi, termasuk suami Winda. Polisi melihat indikasi keempatnya tewas dibunuh.

Polisi mengakui, awalnya mereka mencurigai Afroni, suami Winda yang bekerja sebagai pelaut. Apalagi saksi Sumaryono, tetangga korban mengatakan sering mendengar pasangan suami isteri ini bertengkar.

Itu sebabnya, dengan telah terungkap dan tertangkapnya kedua tersangka pelaku ini, warga menjadi lega. Teka teki sudah terjawab, tak ada lagi saling curiga antar mereka. Bagi mereka Sarminah adalah pedagang es dawet yang dikenal baik dan ramah. Dan kematiannya sungguh mengenaskan. (Tim Liputan/Sup)

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code: