indosiar.com, Jakarta - Turunnya tarif angkutan umum sebesar Rp 500 tentu melegakan para penumpang pengguna jasa angkutan umum. Namun bagi mereka yang sering menggunakan jasa taksi jangan harap anda bisa menikmati tarif yang murah, karena para operator taksi sama sekali belum ada rencana untuk menurunkan tarif argonya.
Padahal masih segar dalam ingatan kita, ketika harga BBM naik dari Rp 4500 menjadi Rp 6000, tarif baru yang dibuat pemerintah dengan cepat disambut suka cita hingga ada istilah tarif bawah dan atas.
Dari tarif buka pintu Rp 3500 menjadi Rp 4500 untuk tarif bawah dan Rp 6000 untuk tarif atas. Namun ketika harga BBM turun mulai Desember tahun lalu hingga tiga kali, tarif buka pintu itu sama sekali tidak bergerak turun, bahkan sejumlah operator taksi mengaku belum ada rencana menurunkan tarif. Alasannya apa lagi kalau bukan soal tingginya harga suku cadang. Setali tiga uang dengan alasan yang selalu disampaikan para pengusaha angkutan.
Menurut para operator taksi, sebenarnya untuk angkutan taksi faktor menentukan bukanlah pada turunnya tarif tapi pada faktor pelayanan yang baik dan memuaskan yang dibutuhkan para pengguna jasa taksi. Karena itu operator taksi berharap pemerintah tidak terlalu ikut campur dalam urusan menentukan tarif taksi. (Albert Bembot/Iwan Agung/Sup)