indosiar.com, Jakarta - Tawuran antar warga di ibu kota seolah sudah menjadi hal yang biasa. Kendati, pemda sudah memasang kamera CCTV, toh, tidak membuat takut. Akhir pekan kemarin misalnya, dua tawuran antar warga terjadi di dua lokasi, yakni kawasan Johar Jakarta Pusat dan Pasar Rumput. Tawuran ini sesungguhnya membuat warga di kawasan ini frustasi. Dan hingga saat ini, akar pemicu tawuran tampaknya memang belum sepenuh teratasi. Berikut laporannya.
Aksi saling lempar batu, botol, kayu hingga anak panah dan benda keras lainnya ini mewarnai tawuran warga di kawasan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, sepanjang akhir pekan kemarin. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang sengaja menyiapkan botol berisi bahan bakar, sebagai bom molotov, untuk melumpuhkan lawan.
Selain melukai sejumlah warga, aksi tawuran ini juga merusak sejumlah rumah warga. Aksi bisa diredakan, setelah aparat kepolisian bersenjata lengkap tiba di lokasi bentrokan.
Hanya selang beberapa jam, tawuran juga pecah di kawasan Pasar Rumput, yang berada di perbatasan wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Tawuran yang melibatkan warga Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat dengan warga Pasar Rumput, Jakarta Selatan ini berlangsung di Jalan Sultan Agung Tirtayasa, selama lebih tiga jam sejak Minggu sore hingga malam hari.
Aksi saling lempar batu, botol hingga bom molotov, kembali mewarnai tawuran yang melibatkan ratusan warga dari kedua kubu. Tawuran selain melukai sejumlah warga, juga memporak-porandakan halte busway, yang menjadi tempat perlindungan salah satu kubu warga yang bertikai.
Petugas dari Polsek Setiabudi dan Polsek Menteng, dibantu kekuatan Brimob, diterjunkan untuk melerai bentrokan. Aparat juga harus melepaskan tembakan peringatan dan gas air mata, untuk membubarkan kerumunan warga. Tawuran di kedua tempat ini sudah berulangkali terjadi. Bahkan tawuran selama ini hanya menanamkan ketakutan di hati masyarakat.
Selama empat bulan terakhir saja, tawuran di kawasan Johar Baru, sudah terjadi 21 kali. Ini berarti dalam seminggu, hampir dua kali warga di Johar Baru terlibat bentrokan. Saking seringnya, Polda Metro Jaya menempatkan kawasan Johar Baru di peringkat pertama, daerah paling rawan tawuran di ibukota. Ironisnya, berbagai aksi tawuran ini umumnya dipicu oleh soal-soal sepele, seperti saling pandang, saling senggol atau karena memperebutkan wanita.
Berbagai upaya telah dilakukan pemprov DKI Jakarta, untuk meredam terjadinya tawuran warga. Salah satunya dengan memasang kamera CCTV di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat, yang menduduki peringkat teratas daerah rawan tawuran. Langkah ini diakui warga cukup efektif menekan terjadinya tawuran.
Meski keberadaan kamera CCTV diakui sejumlah warga mampu menekan terjadinya tawuran, namun pemprov DKI Jakarta lebih mengharapkan partisipasi tokoh masyarakat, untuk menyadarkan warga, agar tidak lagi terlibat tawuran. Mengingat kamera CCTV hanya sekedar alat bantu, untuk mengetahui biang keladi tawuran.
Selain pengadaan kamera CCTV, tentu saja pemerintah perlu segera memetakan masalah tawuran secara lebih jernih, dengan mencari akar penyebabnya. Dan yang tidak kalah penting, tentu saja perlunya sikap pemerintah yang lebih responsif terhadap tuntutan warga. (Tim Liputan/Sup)