indosiar.com, Yogyakarta - Propinsi DIY mendapat predikat tingkat kejujuran tertinggi se-Indonesia, dalam pengerjaan ujian nasional tahun ini. Namun ironisnya, angka ketidaklulusan siswa SMA atau sederajat di Propinsi DIY juga tertinggi dibandingkan propinsi lain di pulau Jawa, mencapai 23,70 persen. Bahkan tiga SMA swasta di Yogyakarta,100 persen siswanya tidak lulus ujian nasional. Bukan hanya di Jawa, di Bandar Lampung dan Timika Papua, tingkat ketidaklulusan juga meningkat.
Jumlah ketidaklulusan siswa SMA di DIY hingga 23,70 persen, tercatat sebagai angka tertinggi sepanjang sejarah. Pihak Disdikpora berencana membentuk tim untuk mencari penyebab ketidaklulusan.
Angka ketidaklulusan SMA di DIY tahun ini, meningkat drastis dari tahun 2009 yang hanya berkisar 6,06 persen atau sebanyak 1.241 siswa dari 20.385 siswa. Tahun 2010 ini ketidaklulusan naik tajam menjadi 23,70 persen, atau 4.623 siswa dari 19.505 siswa. Ketidaklulusan siswa SMA di DIY menduduki peringkat tertinggi se-Jawa, meskipun DIY juga menduduki tingkat kejujuran tertinggi se-Indonesia dalam ujian nasional.
Tahun ini, tidak ada sekolah di Yogyakarta yang tingkat kelulusannya mencapai 100 persen. Bahkan ada 3 SMA yang siswanya tidak lulus 100 persen. Bagi siswa SMA atau sederajat di Yogyakarta yang belum lulus ujian nasional masih dapat mengikuti ujian ulangan pada 10 Mei hingga 14 Mei mendatang.
Pelajar SMA di Bandar Lampung ini, Senin (26/04) siang tadi menangis, setelah tahu tidak lulus ujian nasional. Kepala Sekolah SMA Arjuna, Bandar Lampung, Damili mengatakan dari 85 siswa kelas tiga, empat diantaranya tidak lulus. Mereka gagal dalam ujian nasional karena tidak lulus di mata pelajaran sosiologi dan Bahasa Indonesia serta akan diikutkan dalam ujian ulangan, Mei mendatang. Secara umum, tingkat kelulusan siswa tingkat SMA di Lampung tahun ini meningkat 1,98 persen.
Puluhan siswa di SMK Tunas Bangsa Timika bersedih karena tidak lulus ujian nasional. Beberapa siswa bahkan jatuh pingsan setelah mengetahui tidak lulus dalam ujian nasional.
Menurut Kepala Sekolah SMK Tunas Bangsa Timika, Totok Supratno, tingginya tingkat ketidaklulusan siswa yang mencapai 56% dari 133 siswa, salah satunya disebabkan oleh kurangnya tenaga pengajar tetap, dimana sebagian besar pengajar, merupakan tenaga honor.
Untuk mengantisipasi luapan emosi siswa yang tidak lulus, beberapa aparat kepolisian disiagakan di sekolah, yang saat ini melakukan pengumuman ujian akhir nasional. (Tim Liputan/Sup)