indosiar.com, Tangerang - Tiga desa di Tangerang yang dalam beberapa hari terakhir terserang wabah muntaber dikenal sebagai kawasan kumuh dan kotor. Warganya sudah terbiasa hidup dengan mengkonsumsi air kotor.
Setiap hari anak-anak dibiarkan bermain sembarangan di selokan yang kotor dan membeli jajanan disembarang tempat. Mereka seakan tidak mengetahui jika bahaya sedang mengancam. Arif dan teman-temannya misalnya mengaku setiap hari bermain di selokan untuk mencari cacing. Setelah lelah bermain, Arif bersama teman-temannya kemudian jajanan berupa minuman sirup disebuah warung dekat tempat tinggalnya.
Mereka tidak mengetahui jika minuman yang mereka beli setiap hari merupakan salah satu minuman yang disinyalir Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang sebagai salah satu faktor penyebab mewabahnya muntaber.
Sementara itu sejumlah ibu-ibu juga dengan seenaknya mencuci disembarang tempat dengan menggunakan air kali yang kotor. Selain itu mereka juga menggunakan air tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kendati muntaber sudah berkali - kali mewabah di kecamatan ini dan sudah dinyatakan Kejadian Luar Biasa, namun pemerintah setempat belum melakukan langkah-langkah antisipatif guna mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak. Hal ini diakui sejumlah warga yang mengatakan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang belum pernah memberikan penyuluhan tentang pentingnya memelihara lingkungan yang sehat.
Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang menunjukkan jumlah penderita muntaber pada tahun ini meningkat dua kali lipat dibandingkan 2 tahun sebelumnya. Tercatat sebanyak 300 lebih warga dari tiga kecamatan masing-masing Kecamatan Sepatan, Kecamatan Sepatan Timur dan Pakuhaji menjadi korban wabah muntaber. 4 warga dilaporkan telah meninggal dunia. (Mas'ud Ibnu Samsuri/Sup)