indosiar.com, Yogyakarta - Warga Gunung Kidul yang sejak bencana gempa 3 tahun lalu, kini bisa menikmati air bersih. Pasalnya Agustus lalu, warga disini bergotong royong membangun tandon air. Selama bertahun - tahun warga disini harus berjalan sejauh 4 kilometer hanya untuk mendapatkan air bersih.
Sebanyak 1062 tandon air dibangun di 2 Kecamatan, yaitu Kecamatan Patuk dan Gedang sari. Penggunaan tandon air secara resmi dilakukan Bupati Gunung Kidul, Suharto di Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari. Warga Gunung Kidul sejak bulan Agustus tahun lalu secara bergotong royong ikut membantu penyelesaian pembangunan bak penampungan ini.
Teknik pembangunan penampungan air hujan ini, menggunakan teknik ferosemen yang membuat tandon air lebih kuat dan lebih tahan lama. Palang Merah Jepang mengucurkan dana 7 milyar rupiah untuk pembangunan 1 buah tandon. Untuk 1 tandon air dibutuhkan dana 5 hingga 7 juta rupiah.
Dengan pembangunan bak penampungan air hujan ini, sejaknya 9 ribu kepala keluarga bisa terbantu untuk mendapatkan air yang bersih. Sejak bencana gempa tahun 2006 lalu warga Gunung Kidul memang kesulitan untuk mendapatkan sumber air yang bersih, karena sumber - sumber air banyak yang tertutup akibat pergeseran lempeng tanah.
Akibatnya mereka harus berjalan kaki sejauh 4 hingga 5 kilometer untuk mendapatkan air bersih. Dengan adanya pembangunan bak penampungan air hujan ini, warga berharap bisa memenuhi kebutuhan air sehari - hari. Pembangunan 1062 penampung air hujan yang diselesaikan dalam waktu 6 bulan ini juga tercatat dalam rekor MURI, sebagai pembuatan tandon air terbanyak dan tercepat yang melibatkan kerja gotong royong masyarakat. (Andreas Heriadi/Dv).