HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
FOKUS

Waspada Penculikan Anak Mengintai




indosiar.com, Jakarta
- Satu bulan terakhir, masyarakat, terutama kalangan orang tua dibuat resah. Penculikan anak kembali marak, tidak hanya di Jakarta, tapi di sejumlah daerah. Yang paling tragis tentu peristiwa penculikan anak di Jakarta Barat, dengan korban bernama Jefri Adriansyah. Hilang dari rumah, tujuh hari kemudian bocah berusia sembilan tahun ini ditemukan sudah tak bernyawa, di sebuah lahan kosong di kawasan Joglo Kembangan, masih di wilayah Jakarta Barat.

Pukulan berat bagi Ujang Hidayat dan Suryani, orang tua korban. Mereka sudah tahu anak mereka diculik, bahkan sang penculik sempat menghubungi minta tebusan sejumlah uang. Mereka tak menyangka penculik bertindak begitu kejam.

Banyak pihak menuding, tewasnya Jefri Adrian, bentuk kekalahan polisi dari penculik. Sejak menghilang Suryani dan suami sudah melapor dan menyerahkan sepenuhnya kasus ini ke polisi.

Seminggu berjalan polisi tak mampu melacak pelaku, dan menyelamatkan Jefri, sampai kemudian tubuh bocah itu ditemukan warga.

Penculikan Jefri ini merupakan kasus kedua di Jakarta Barat. Sebelumnya, kasus penculikan juga terjadi di wilayah Kalideres Jakarta Barat. Dua orang bocah, Maria Belen Boru Tobing dan adiknya Meilan Boru Tobing, menghilang saat berada di sekolah. Morton Tobing, paman korban, memperkirakan kedua ponakannya itu dijemput seseorang sekitar pukul setengah satu siang dan kemudian membawanya pergi. Kasus ini belum terungkap.

Penculikan tak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga di sejumlah tempat di daerah. Di Bekasi Jawa Barat, 2 Juni lalu dua bocah warga perumahan Bintang Metropole, hilang dari rumah. Belakangan diketahui kedua bocah dibawa kabur Wijiastuti, wanita yang baru seminggu bekerja sebagai pembantu di kediaman orang tua korban.
                             
Di Purworejo Jawa Tengah, seorang bocah kelas 1 SD bernama Afrisa Ekasafitri nyaris juga menjadi korban penculikan. Beruntung, ia berhasil lari ketika coba didekati 2 orang tak dikenal yang datang dan mengajak pergi dengan mengiminginya ice cream, saat ia dalam perjalanan pulang dari sekolah.

Maraknya kasus penculikan anak, kini menjadi keresahan para orang tua. Para orang tua tak mau kecolongan dan menjemput anak mereka sepulang sekolah.
 
Kasus penculikan anak, menurut catatan Komisi Nasional Perlindungan Anak, terus meningkat dari tahun ke tahun. Pelakunya, kalau bukan orang dekat korban, anggota jaringan perdagangan anak, yang modusnya beragam, ada dengan menjadi pembantu rumah tangga, hingga menyamar sebagai perawat di rumah sakit bersalin.

Menyikapi ini, KPAI minta pihak kepolisian bertindak lebih aktif, tidak saja dengan merespon setiap laporan, tapi juga melakukan tindakan prefentif, melakukan penyuluhan di sekolah-sekolah dasar, meminta kerjasama para guru supaya lebih meningkatkan pengawasan kepada para murid. Karena anak-anak siswa SD, memang rawan diculik, tidak saja karena usia belia mereka, tapi karena orang tua sering lalai melakukan penjagaan dan pengawasan.

Tapi jika dilihat secara keseluruhan, menurut kajian Komnas Perlindungan Anak, kasus penculikan anak di Indonesia, lebih banyak dilatarbelakangi kisruh rumah tangga, kasus perebutan anak antara suami-isteri yang tidak harmonis.

KPAI mengambil contoh kasus penculikan anak dalam dua tahun terakhir. Dari 169 kasus yang terjadi, 70 persen diantaranya dipicu perebutan anak berlatarbelakang perceraian suami isteri. Sehingga anak menjadi korban.

Faktor kedua, lemahnya pengawasan dan penjagaan dari orang tua, saat anak bermain di luar rumah. Karena itu kasus-kasus penculikan anak yang terjadi, hendaknya menjadi momen penyadaran bagi para orang tua, agar kasus sama tidak terjadi dengan mereka. (Tim Liputan/Sup)

Bookmark and Share