indosiar.com, Jakarta - (Rabu, 22.02.2012) Tak mudah untuk sampai di Sekolah Himmata, yang terletak di kawasan kumuh Plumpang, Jakarta Utara. Siswa harus melewati gang sempit yang jauh dari jalan raya, dan juga rawa yang penuh sampah. Meski berdiri di atas air rawa yang kerap menimbulkan bau tidak sedap, sekolah yang dibangun tahun 2004 ini cukup nyaman untuk proses belajar mengajar.
Sekolah ini didirikan oleh Yayasan Himmata (Himpunan Pemerhati Masyarakat Marjinal Kota), yang bertujuan untuk memberi tempat bersekolah bagi anak jalanan di Jakarta.
Sekolah ini termasuk pendidikan non formal, namun kegiatan belajar siswa tak berbeda dengan sekolah formal. Siswa masuk 5 hari seminggu, sementara Sabtu dan Minggu digunakan untuk ekstrakurikuler. Ijazah yang didapat juga diakui dinas pendidikan, sehingga bisa digunakan untuk melamar pekerjaan ataupun memperoleh beasiswa ke jenjang pendidikan selanjutnya.
Selain itu ketrampilan juga diberikan, seperti komputer dengan peralatan laboratorium sumbangan dari donatur agar siswa melek teknologi. Siswa juga diajarkan mendaur ulang sampah yang jadi sahabat lingkungan sekolah mereka. Termasuk mengolahnya jadi sumber rejeki. Seperti bunga dan daun kering, yang diolah menjadi kartu undangan.
Selain mendaur ulang, pendapatan sekolah juga didapat dari membuat sabun cuci piring dan cuci motor. Sepulang sekolah, para siswa rajin memproduksi sabun yang mereka jual ke lingkungan sekitar, dan keuntungannya dibagi untuk para siswa.
Untuk bisa belajar di sini, siswa tidak dipungut biaya sepeserpun. Operasional sekolah masih bergantung dari uluran tangan para donatur. Bagi para pengelolanya, hal yang paling menjadi ganjalan adalah tanah tempat sekolah Himmata dibangun. Tanah rawa ini merupakan tanah yang tidak jelas kepemilikannya.
Untuk menampung siswa yang tidak punya tempat tinggal, pihak sekolah menyediakan asrama. Keperluan hidup juga ditanggung sepenuhnya.
Tahun ini Himmata menampung ratusan siswa, yang terdiri dari 276 siswa SD, 177 siswa SMP, dan 60 siswa SMA. Jumlah yang cukup besar, bagi sekolah yang hanya mempunyai 9 ruang kelas. Oleh sebab itu proses belajar mereka pun bergantian. (Ryan Wiedaryanto/Medi Kuswedi/Sup)