
indosiar.com, Taiwan - Perdebatan siapa yang lebih baik antara F4 dan 183 Club memang tidak ada habisnya, dan kerap membuat penggemar kedua grup tersebut saling adu argumen. Belakangan, gosip miring terus menyerbu grup yang terakhir.
Dikabarkan oleh sebuah media Taiwan, popularitas 183 Club telah merosot drastis dibandingkan tahun 2006 silam saat The Prince Who Turns Into A Frog laku keras. Gosipnya selain meminta bayaran yang sama mahalnya dengan F4 yang telah bertahun-tahun dikenal publik, 183 Club juga dituding terlalu tinggi hati (meskipun ucapan tersebut kerap disampaikan sambil bercanda).
Padahal kalau dilihat secara finansial, masalahnya tidak semudah itu. Tidak seperti F4 yang telah mempunyai pendukung kuat untuk mendukung kegiatan mereka, 183 Club tidak mempunyai satu sponsor pun. Selain itu, grup yang beranggotakan Jerry Yan-Vic Zhou-Ken Zhu-Vanness Wu tersebut juga secara rutin tampil di sejumlah acara musik (terutama secara perorangan).
Hal kebalikan dialami oleh 183 Club, yang disebut lebih mengandalkan serial-serial televisi untuk mempertahankan popularitas. Ditambah oleh kurang suksesnya Magician of Love bila dibandingkan oleh The Prince Who Turns Into A Frog, pihak East Asia sebagai penyelenggara acara mulai kuatir dengan jumlah penjualan tiket yang ditakutkan tidak mencapai target.
Ditambah dengan kurangnya dukungan dari pihak sponsor, konon East Asia sempat mengajukan pengurangan nilai kontrak pada pihak manajemen 183 Club yang dikomandani Sun De-rong dan bisa ditebak, penolakan-lah yang diterima. Akibatnya, konser yang semula direncanakan digelar di bulan Januari 2007 langsung dibatalkan dan dialihkan ke artis lain.
Ketika dimintai komentar, manajer Sun membantah tudingan miring tersebut dan balik menyerang pihak penyelenggara yang menurutnya kerap menawarkan harga terlalu rendah sehingga bila diterima, itu sama saja dengan tampil secara amal. Wow, rumit deh...........(weiwei/xiaotianrocks/mdL)