
indosiar.com, Jakarta - Kasus persengketaaan didalam tubuh Persatuan Artis Sinetron Indonesia (PARSI) semakin tajam, terutama setelah Ketua I Roy Marten angkat bicara soal adanya selisih uang yang cukup besar dalam organisasi yang dipimpin oleh Anwar Fuady itu.
Menurut mantan idola remaja tahun 1970-an ini, kejadian tersebut bermula ketika pihak PARSI memperoleh dana sekitar 2,6 milyar rupiah untuk membuat proyek sinetron 16 episode yang isinya tentang penyuluhan koperasi. Belakangan, ketika ditawarkan ke stasiun televisi swasta ternyata ditolak karena dianggap kurang layak.
Roy mendapati bahwa ternyata pembuatan proyek itu hanya menghabiskan sekitar 1,7 milyar sehingga otomatis ada selisih 900 juta yang tidak diketahui keberadaannya. Meski tidak mau menuding, namun sebagai Ketua I ayah Gading Marten itu merasa berhak menanyakan kemana raibnya sisa uang tersebut.
Masalah yang terjadi tidak hanya sampai disitu, belakangan Roy membeberkan bahwa sebenarnya sejak didirikan tahun 1999 silam sudah lama PARSI tidak aktif keorganisasiannya. Hal itu juga dikuatkan oleh komentar Firman Bintan yang adalah anggota Dewan Pertimbangan (DPO) PARSI.
Menurutnya meski sudah berusaha, tidak ada satupun anggota PARSI yang mendaftarkan diri saat sehingga pihak DPO berdasarkan AD/ART menunjuk Roy untuk mengetuai panitia persiapan Musyawarah Besar PARSI demi membenahi kinerja organisasi dan menyatakan status Anwar sebagai demisioner.
Ketika dimintai komentar, Anwar membantah semua tuduhan itu. Ia mengatakan bahwa sinetron 16 episode itu sudah ditayangkan di stasiun TVRI dan kalaupun tidak ada televisi swasta yang menayangkan, hal itu lebih dikarenakan tidak adanya sponsor.
Ia juga menyebut bahwa pembukuan yang mencatat semua pemasukan dan pengeluaran PARSI juga telah dicatat rapi, dan ia tidak terlibat langsung dalam sinetron tersebut. Sebelum pergi, Anwar mengatakan bahwa seharusnya semua tidak perlu dipermasalahkan karena selain sudah ditayangkan, pihak koperasi juga telah mengucapkan terima kasih.(mdL)