HOME | CONTACT US | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
KOLOM
Magic Brain

Banyak Cerita Percontohan yang Menyangkut Bagaimana Kita Seharusnya Memandang Hidup



* Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar

Mungkin karena penulis selalu memberikan ulasan untuk memperhatikan cara hidup bagaimana semustinya, maka banyak menerima karangan dari keadaan nyata yang menggambarkan, bahwa diantara kita masih ada orang-orang yang menuntut hidup yang sangat sederhana, tapi tidak memberikan kesan akan merasa tertekan dan kecewa.

Padahal, sekelilingnya mereka didapatkan pengaruh yang demikian besarnya yang bila diperhatikan, akan memberikan pengaruh yang akan dapat merubah cara mereka sedang melaksanakan kehidupanya. Namun demikian, hatinya tetap teguh dan meneruskan gayanya mengarungi lautan kehidupan yang terkadang dipandang dari sudut mereka yang berada pada tingkatan hidup yang diatasnya, sepertinya tidak dapat dikatakan layak. Ini menurut pandangan orang yang tak ingin hidup sederhana.

Apakah sebenarnya yang mereka kejar didalam mencapai kehidupan yang begitu sederhana, tapi tetap merasa kepuasanya. Diantara mereka tentu saja ada yang tidak mempunyai pendapat seperti yang di  kemukakan. Sebagai makhluk Tuhan yang dilahirkan didunia secara acak pada lingkungan yang sebenarnya tak dapat terpikir sendiri, mengapa lalu dilahirkan di suatu lingkungan tertentu yang sebenarnya tak diinginkan. Mereka tetap tenang dan pasrah.

Yang terpenting bagi mereka adalah mensyukuri adanya ‘Pemberian Hidup’. Ini penulis rasakan sebagai satu-satunya unsur menghormati ciptaan didalam Jagad Raya ini. Makin ada penyelidikan yang mendalam tentang adanya kehidupan, maka akan membawa kita pada hal-hal yang tadinya masih merupakan teka-teki. Manusia yang disebut “pintar” ada dua perwujudan, yaitu yang menjadi seorang super intelektual (obyektif) dan ada yang dari ‘sono’-nya menjadi orang yang dikenal sebagai orang para-normal (inteligen subyektif) yang disegani dan sangat dipercaya, karena kejujuranya.

Orang yang tak jujur, suatu ketika pasti akan terlihat ulahnya. Seperti selalu penulis katakan, bahw kita selalu mendapatkan pantauan dari HTBA, hukum alam yang sangat adil dan efektif memantau perilaku ciptaan-NYA. Sebenarnya kasihan mereka yang hidup didalam tafsiran yang menyimpang, karena adanya orang-orang yang tak bertanggung jawab akan apa yang dipengaruhkan kepada mereka yang pada hakekatnya memerlukan kejujuran penjelasan tuntas.

Ibaratnya bangkai yang bagaimanapun ditutup secara rapih, bau busuknya akan tercium juga. Tahukah para pembaca, bahwa orang yang pada saat hidupnya tak pernah melanggar HTBA, bangkainya tidak berbau. Tapi yang selalu berlawanan dengan HTBA, nyata akan selalu berbau, terkadang demikian menyengatnya, karena itu adalah tumpukan dosa-dosa yang telah diperbuatnya selama berada didalam pelaksanaan hidupnya. Hal ini berdasarkan penyelidikan yang dilaksanakan pada banyak fakultas para-psikologi. Percaya atau tidak, bukan merupakan persoalan, kenyataanya adalah demikian.

Hal seperti itu termasuk perilaku yang merupakan pembohongan dan merupakan sesuatu yang tak dapat dimaafkan, karena melaksanaan suatu penganiayaan kepada yang dibohomgi, bukan begitu kenyataanya? Apa yang sebenarnya nyata tidak baik, tapi dikatakan baik, merupakan penyimpangan yang berarti kita berbohong, bukan? Ada yang menyatakan bahwa bila melaksanakan tindak bohong, tapi tak sengaja, tidak dapat dikatakan berbohong.

Ini hanya alasanya, karena bila setiap orang mempunyai kondisi bebas dari stress, akan selalu mendapat tahu dari hati sanubarinya bahwa bila menyatakan sesuatu akan terasa adanya suara hati bahwa hal yang bakal dikemukakan itu tidak berdasarkan kenyataan yang absolut. Dan inilah merupakan pendidikan subyektif yang selalu penulis dengungkan. Kita tak pernah mengetahui  bahwa pendidikan seperti itu sudah lama merupakan usaha mengingatkan manusia pada hal-hal yang dapat merusak jiwa. Sudah saatnya bahwa kita kini menyadari memerlukan pendidikan itu berapa pun umur kita.

Karena pada pendidikan seperti itu, kita akan dibawa kaearah yang dinamakan pada kedalaman kesadaran atau juga dunamakan tingkatan nirsadar atau bawah (sub)-sadar kita yang merupakan dimensi lain yang belum pernah dirasakan dan disadari. Mereka yang masih ragu-ragu didalam hal ini, akan merasa ketinggalan didalam pembangunan Alam Pikir, yang seharusnya sudah lama melek atau mempunyai Alam Pikir yang terbuka dan bukan sebaliknya.

Memang bila hal kebiasaan buruk menimpa diri kita dan sudah menjadi kebiasaan sehingga merasa ‘nyaman’(?) pada nuansanya, akan sulitlah untuk keluar dari kondisi yang sesat tersebut. Hal inilah yang sering tak diperhatikan oleh orang tua, sehingga anak asuhanya akan terjerumus didalam kancah negatif. Kelanjutanya akan makin meresap dikobarkan oleh lingkungan yang serupa nansanya. Manusia seperti apa lalu dapat dikatakan, bila hal itu sudah mernjadi darah daging untuk selanjutnya???

Demikian kenyataanya.(Ijs)

Hubungi Kursus Silva : klik di sini

 

 

Bookmark and Share


Page: 1
21-Jul-2010 20:36:48 WIB by reja wahyudi
ingin jadi orang pintar soleh rajin sembahyang

 

Nama:
Email:
Security Code: