HOME | CONTACT US | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
KOLOM
Magic Brain

Bunuh Diri Serta Membunuh Merupakan Persoalan yang Perlu Dikaji Ulang



Berita HOT:

Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.

Dunia saat kini dipenuhi dengan persepsi yang lebih banyak menyimpang dari pada aturan-aturan yang telah disepakati bersama secara internasional maupun nasional dan atas dasar keagamaan. Kita sebagai manusia yang dikatakan dewasa sepertinya masih mempunyai banyak kekurangan-kekurangan yang biasanya ada pada sifat kekanakan.

Siapakah yang lalu dapat dikatakan bertanggung jawab atas penyimpangan-penyimpangan tersebut? Terutama hal ini sudah tentu dibebankan kepada orang tua pada umumnya yang mendidik anak-anak mereka. Dan ternyata juga, bahwa pendidikan anak-anak tidak selalu langsung dilaksanakan oleh orang tua di dalam jangka waktu yang lama dan tepat.

Ada saja, orang tua yang pada hakekatnya b e l u m s i a p untuk menjadi orang tua. Banyak terjadinya yang disebut kecelakaan sexual, menjadi sesuatu yang kebanyakan diantara kita melihatnya dengan mata sebelah. Hal ini pun merupakan suatu pendidikan seks yang masih sangat tabu diantara anak dan orang tua. Sekalipun kita katakan hidup di dalam zaman modern dimana pembicaraan seksual sudah menjadi umum.

Yang menjadi dorongan kuat disini adalah bentuk emosi yang sedang dirangsang. Gairah termasuk salah satu bagian dari emosi, bukan begitu? Banyak diantara kita tentu akan menyangkal hal ini dan lebih menyerahkan pada sesuatu yang memang sudah diciptakan oleh Alam dan menyangkut semua bentuk jenis kreasi. Disinilah kekuranganya pada cara pengendalian diri yang selain sudah menjadi bagian dari bakat, harus dikembangkan dengan sempurna, bila tidak ingin melihat hasil dari sesuatu yang dikatakan tak terkendali.

Bunuh Diri dan membunuh sesama, yang termasuk “mendahului Tuhan” tentu ada alasan tertentu yang menjadi penyebabnya kita tak dapat mengendalikan diri yang merupakan dorongan dari bentuk emosi, bukan? Sifat-sifat buruk, seperti balas dendam, iri hati, dongkol, kecewa berat, rasa terhina dan lain sifat yang sangat merugikan kita pada umumnya, akan menjadi rangsangan serta membentuk tindakan yang terkadang tanpa disadari benar.

Hukuman mati merupakan suatu dendam masyarakat. Dengan menghukum mati, disinilah contohnya, kita nyata lagi telah “mendahului Tuhan”, kita merasa ketakutan pada seorang pembunuh yang sudah tak dapat dirubah kelakuanya. Sudahkah oleh masyarakat dipikirkan untuk menanggulangi persoalan ini dengan menggunakan “re-education” atau pendidikan kembali melalui cara s u b y e k t i f dan bukan obyektif dengan cara V e r b a l , karena keampuhanya dapat dipertanyakan menyangkut yang disebut terakhir ini.

Ada tentu, di dalam hal pembunuhan, yang sengaja memperhitungkan serta me-analisa berat didalam melaksanakan tindakanya tersebut. Alasan-alasan dicari-cari dengan seksama untuk <Membenarkan> suatu tindakan sesat dimata umum dan keagamaan. Hubungan antara kedua substansi itu memang tak dapat dipisahkan kini. Alasan-alasan yang merupakan hasutan pun dianggap perlu dan dihalalkan. Benarkah musti begitu?

Bagaimanakah lalu kita menghadapi hal-hal yang merusak seperti itu? Membangun sosok manusia dari bayi menjadi dewasa, merupakan tuntutan yang penting diperhatikan serta diwujudkan kearah yang selalu positif dan jangan kebalikanya. Dan memerlukan jangka waktu panjang. Sudah penulis kupas di dalam naskah yang menyangkut penggunaan Free Will sebelum ini. Justru karena free will atau keinginan bebas, yang nantinya bisa berwujud menjadi merusak, harus sudah sejak dini didalam pendidikan di- A w a s i dengan tuntas, bila tidak ingin menjerumuskan seorang yang telah menjadi anak didik kita! Hal inilah yang sering kali tidak pernah menjadi perhatian mendalam di dalam cara-cara pendidikan kita sebagai orang tua. Kita yang sudah namanya m e l e k tak dapat menyalahkan orang tua kita, karena pada masa itu mereka belum mengetahui adanya suatu S y s t e m yang dapat merubah sifat-sifat buruk kita dengan t e l a k !.

Kita mempunyai banyak sekali alasan-alasan yang membenarkan suatu ke- m a l a s a n yang menimbulkan kelemahan serta akibatnya yang memang menjadi budaya didalam perjalanan kehidupan kita hingga kini. Tapi banyak diantara kita yang tak mengakuinya dan tak menyadarinya dengan telak. Pengendalian, pengendalian diri, sekali lagi P E N G E N D A L I A N E M O S I merupakan fakta atau kenyataan telanjang yang hendaknya kita waspadai, sadari dan mampu mengatur dan merubahnya demi kebaikan kita sendiri, bila tidak ingin mempunyai perjalanan hidup yang penuh hambatan dengan bentuk m a s a l a h macam apa pun, bukan begitu keinginan kita yang paling diidamkan?(Ijs)

H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method,
Laredo - Texas - United States of America.

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code: