
Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Judul ini oleh penulis sengaja diulangi terus, karena bila kita mengkaji ulang berita-berita yang ditayangkan di media massa seperti, Koran, TV, internet dan lainya, ternyata masih selalu dipenuhi oleh adanya gejolak emosi tersebut, dalam arti kata mencari hal yang sensasional. Apakah hal itu tidak mendapatkan perhatian penuh oleh kita sendiri dan para pemimpin dan siapa pun? Apakah lalu berita yang tidak sensasional tidak menarik bagi masyarakat? Mendidik masyarakat sudah waktunya dilaksanakan.
Di dalam pengembangan diri untuk mencapai suatu tingkatan tertentu menurut angan-angan kita masing-masing, kekuatan yang mendorong diri kita memperoleh tujuanya itu, merupakan hal yang sangat menentukan. Ini di dalam arti kata yang bisa saja dikatakan m e m b a n g u n atau m e r u s a k, bukan begitu kenyataanya?
Sesuatu yang diusahakan dengan niat positif serta luhur, ditengah perjuangan bisa saja menjadi beralih dari tujuan tersebut, karena kita tidak mampu benar untuk dengan s e n g a j a dapat mengatur kekuatan atau potensi itu menjadi benar-benar positif didalam pendukungnya.
Biasanya bila pengendalian gejolak itu kurang tuntas, sehingga dapat dikatakan “terumbang-ambing” akan selalu mengarah pada penyimpangan tujuan semula. Kebanyakan diantara kita mudah sekali dirangsang oleh gejolak E m o s i yang tanpa diketahui akan membuat kita menjadi emosional sampai meledak-ledak melaui kemarahan yang akan berakhir, bila tak diredakan , kepada tindakan baku hantam.
Sering hal ini dapat penulis tangkap di dalam pembicaraan-pembicaraan yang pada mulanya tidak dipengaruhi oleh adanya gejolak emosi tadi. Mengapakah begitu mudah kita ini diatur oleh berkobarnya emosi, yang bila tidak diatur melalui pendidikan tuntas akan selalu membuahkan hal-hal yang terlepas dari suatu p e n g e n d a l i a n . Memang para pembaca, suatu cara bagaimana kita dengan t e l a k dapat mempunyai k e n d a l i terhadap gejolak e m o s i itu, tidak dapat ditanggpi dengan enteng. Hal ini akan jauh lebih menguntungkan daripada kerugian. Emosi akan selalu membawakan kelelahan dan efeknya pada tubuh lebih merusak daripada membangun. Penulis rasakan para pembaca telah banyak mengalami hal ini, tapi kurang d i s a d a r i .
Banyak sekali hal-hal yang masih belum tuntas dibelajarkan pada diri kita yang menyangkut hal pengendalian emosi yang dapat mengobarkan gejolak ‘mata gelap’ yang dapat mempengaruhi perasaan yang sifat-sifatnya akan selalu merugikan daripada menguntungkan, bukan? Di dalam hal ini, kita sering kali lepas dari pengawasan pada diri sendiri, sehingga akhirnya tidak menuju kepada sesuatu yang dapat dibanggakan. Penyesalanya akan selalu t e r l a m b a t , bukan???
Memang, pada masa ‘panca roba’ dimana kita sedang berada kini untuk menemukan j a t i d i r i bangsa yang dikatakan beradab yang sebenarnya, kita dihadapkan pada begitu banyak masalah atau problem, sehingga tidak mendapatkan kesempatan untuk meneliti d i r i s e n d i r i dengan telak dan tuntas. Perhatian pada diri sendiri inilah yang pada hakekatnya memberikan kita justru kebebasan dari kondisi yang dikenal dengan S T R E S. Dan hal ini jangan ditanggapi dengan ‘enteng’ atau di-‘remeh’-kan. Pembaca sendiri akan merasakan kerugianya dengan tak memperhatikan hal yang penulis kemukakan ini. Terutama yang akan diserang adalah ketenangan tubuh.
Di dalam perjalanan hidup kita, yang sering kali dirundiung oleh ketidak pastian, kita harus melebihi k e w a s p a d a a n kita terhadap segala bentuk informasi berupa berita, peristiwa dan lain sebagainya. Sebabnya adalah, bahwa informasi seperti itu dapat kita tanggapi sebagai sesuatu yang hanya lewat saja, tanpa adanya e f e k pada pengelolaan Pusat Pikir. Tapi, justru disinilah gejalanya, bahwa tak memperhatikan efeknya suatu informasi pada diri kita, baik itu merupakan kegembiraan, kebanggaan, kesedihan, ketakutan, kecemasan, keraguan dan lain-lain gejolak yang mempengaruhi diri kita, akan tidak memberikan hal efek yang bisa menguntungkan, membangun dan bukan merusak pengelolaan pikiran kita, yang tanpa diketahui akan membentuk suatu penglihatan atau visi yang terbatas..
Kewaspaan atau ‘alertness’ dapat menghindarkan diri kita dari pengaruh yang biasanya lebih buruk daripada yang dapat disangka. Biasanya suatu informasi dengan bentuk apapun, akan l e w a t begitu saja tanpa adanya perhatian yang p a t u t dicurahkan pada informasi tersebut. Hal ini termasuk kualitas dari daya ingat dan konsentrasi kita yang terlalu sering dibantai oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diperhatikan. Kebanyakan diantara kita selalu merasa L e m a h terhadap gejala tersebut.
Tapi bagaimana pun dan apapun yang ditangkap melalui indra-indra kita yang fisik, biasanya dipenuhi dengan berbagai macam bentuk perasaan. Dan hal ini dapat saja menimbulkan perasaan-perasaan yang pada mulanya tak dapat dikenali dengan jelas, kurang terang dan tidak mempunyai kecerahan yang diperlukan di dalam meng-identifikasi sifat serta bentuk informasinya.
Pernahkan para pembaca mempunyai perasaan seperti ini? Menurut penulis hal inilah yang sering kali dialami, bila pengelolaan pikiran tidak mempunyai pengendalian tuntas dalam mengelolanya. Kita sayangnya tidak memperhatikan dengan benar, bahwa lingkungan kita itu pada hakekatnya merupakan suatu pengaruh t u n t u n a n yang dapat mendalam sekali, bila kewaspadaan kita masih di dalam tingkatan biasa-biasa saja atau dangkal.
Disinilah dapat dibangunkan suatu cara melaksanakan v e r i f i k a s i dari informasi apapun yang kita hadapi pada saat sedang didalam kondisi b a n g u n s a d a r. Seperti selalu penulis uraikan, kondisi bangun sadar yang tak di-d o m i n a s i oleh kemampuan bawah sadar, akan menghilangkan yang sangat kita perlukan, yaitu pengendalian dari k e p e k a a n i n t u i t i f, bukan begitu hendaknya???
H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method,
Laredo - Texas - United States of America.