
indosiar.com - Sebagai agama, Islam dalam ajarannya sudah pasti menentang segala bentuk dan tindakan terorisme. Namun dalam ajaran oleh para pengikutnya, agama Islam kerap maju sebagai sosok politik dan ideologi. Dengan begitu, hampir pasti tak bisa mengelak jika dipakai oleh para aktivis Islam ekstrim untuk melakukan justifikasi bagi aksi kekerasan terorisme.
Terorisme selama ini terbukti paling mudah berkedok agama untuk memikat pengikut guna melancarkan gerakan politik ekstrim yang biadab. Maka, masuk akal jika pengamat politik sekaligus Direktur Pelaksana East Preston Islamic College, Australia, Esad Alagis, menilai pengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton 17 Juli 2009 tidak terkait masalah agama, tetapi lebih ke soal politik.
Asad meyakini apa yang dialami oleh negara Indonesia diakibatkan masalah politik, dan bukan faktor agama Islam. Maksudnya, bom teroris adalah pesan politik dan gerakan politik ekstrim. Tentu saja agama tidak membenarkan hal ini.
Persoalannya, dengan segala pandangan dan tuduhan terhadap agama, Islam telah mengalami eksploitasi dan dibajak sedemikian rupa oleh para teroris untuk mendominasi aksinya. “Islam dibajak dan dijadikan justifikasi untuk membenar-benarkan terorisme. Sehingga sejumlah kaum muda terpikat dan terlibat di dalamnya,” kata Alagis.
Hasil yang didapat sudah pasti, sebuah karakter buruk diemban Umat Islam karena dianggap melakukan kejahatan dengan melakukan pembunuhan dengan pengeboman.
Mantan Kepala Badan Intelejen Negara Hendro Priyono membenarkan pendapat tersebut. Bahkan dari periode masa sebelum ledakan bom di kedutaan Australia, ancaman teroris di tanah air sudah terdeteksi masuk dengan mempergunakan ajaran agama sebagai ideolgi pembenaran operasi teroris.
"Terorisme terjadi akibat ideologi, bukan kepentingan. Cara mencegahnya adalah dengan menghentikan cara berfirkir seseorang yang berkepribadian terbelah, serta perlunya keberadaan UU inteligen," ujar Hendro Priyono.
Soal pembajakan agama oleh teroris, mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI) Nasir Abas mengakui, secara simbolik penggunaan nama Islam dipakai Noordin M Top dan JI dalam mencapai tujuan mereka seperti peledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton.
Bahkan Nasir melihat, teror bom yang menewaskan sembilan orang itu mungkin sebagai aksi protes menolak penambahan pasukan Amerika Serikat di Afganistan yang akan menghambat gerak Al Qaeda dan Taliban yang diidolakan Noordin dan para teroris lainnya. Sebab AS terkesan hegemonis dan intervensionis atas dunia Islam itu.
“Aksi di JW Marriott dan Ritz-Carlton itu dilakukan oleh pihak yang sama, yaitu kelompoknya Noordin. Kenapa dilakukan di Indonesia? Ya selalu begitu. Sebab menyambut seruan Osama bin Laden, yang mengajak umat Islam dunia membalas serangan Amerika Serikat dan sekutunya di mana pun berada. Ketika ada di Indonesia, ya di Indonesia,” kata Nasir.
Pengalamannya saat aktif di JI, dirinya membawahi kawasan Kalimantan (Borneo), Sulawesi (Celebes), dan Filipina Selatan. Noordin M Top adalah salah satu anggotanya pada 1996-1997. Ketika 1997, Nasir dipindah ke Sabah untuk membina wilayah III, sehingga kontak dengan Noordin terputus.
Nasir yang telah mengenyam pendidikan militer di Afghanistan, mewanti semua pihak keamanan agar harus selalu waspada sebab menangkap kelompok Noordin dan jaringannya akan sulit. Apalagi Noordin selalu merekrut orang baru dan langsung dilibatkan dalam aksi selanjutnya. Sehingga sulit menelusuri siapa saja orang orang yang pernah direkrut oleh Nordin M. Top lantaran tidak ada catatan sebelumnya. Jadi kesiap siagaan kita dan kewaspadaan warga masyarakat sebagai pedoman penting sebagai fungsi tangkal dari upaya operasi terorisme yang akan beraksi.(Her)