Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Kita kini disebut ‘manula’ atau manusia lanjut usia, pada saat memasuki masa p e n s i u n serta mencapi usia diatas 65 tahun, atau separuh lebih dari umur hidup manisa yang s e h a t. Hal itu pada kebanyakan diantara kita disambut dengan lapang dada, menerima apa adanya. Tapi ada juga yang kesal dan merasa tidak berguna lagi. Seakan-akan kita telah dilupakan dan tidak lagi termasuk yang aktif mampu memikirkan masa depan. Apakah arti masa depan untuk manula? Bisakah ia itu masih berperan didalam pembangunan, misalnya saja “Akhlak” untuk memajukan lingkungan yang akan mempengaruhi bangsa dan negara?
Demikianlah timbul berbagai macam pencetusan pikiran pada ‘benak’ atau otak orang tua yang tinggal menunggu waktunya untuk ‘berpindah dimensi’. Memang kehidupan pada yang dinamakan dimensi ‘kenyataan’ atau dimensi t i g a, karena dibatasi oleh ‘ruang’ dan ‘waktu’, perlu difahami dengan tuntas. Akhir-akhir ini banyak penemuan-penemuan baru diketemukan, sebenarnya tanpa disadari dan diwaspadai untuk mendukung masa yang akan menjadi disebut M a n u l a itu. Hal itu terjadi, karena kita terlalu sibuk dan kurang memperhatikan ‘kehidupan’ itu sendiri. Yang dikejar, pada waktu masih muda, tidak lain kebanyakan diarahkan kepada pengumpulan M a t e r i, dengan maksud untuk melestarikan turunan, supaya tiada kekurangan apapun. Padahal setiap I n s a n harus bisa M a n d i r i, karena itu adalah M i s i–nya.
Sebagai manusia yang telah di-Ciptakan oleh Yang Maha Sempurna atau YMS, kita ternyata paling lemah didalam membangun ‘kejiwaan’. Memang kita mempunyai kedudukan yang dinyatakan ‘istimewa’. Tapi dipandang dari manakah itu ? Tentu dari yang lebih rendah dari itu. Melestarikan sesuatu dalam kenyataan atau ‘dimensi Obyektif’, sebenarnya belum dirasakan benar manfaatnya. Apakah hal itu untuk diri sendiri dan keluarga dekat ? Atau diperuntukkan bagi mereka yang didalam pengembangan jiwanya selalu berada dibagian yang terlupakan oleh pembangunan ?
Ini semua telah juga tercetus pada pikiran seorang penemu yang boleh dikatakan berada pada suatu tingkatan yang teratas didalam penyelidikan mengenai berfungsinya dua bagian ‘Otak’ yang mengisi batok kita, yaitu ‘Otak bagian Kanan’ dan ‘Otak bagian Kiri’. Kedua otak itu berfungsi sangat berbeda satu dengan lainnya. Otak kiri dikembangkan dan dibiasakan untuk menangkap segala informasi, baik itu berupa penglihatan peristiwa, bacaan-bacaan melalui koran, buku dan TV dan ditunjang melalui pendengaran. Sedangkan ‘Otak bagian Kanan’ merupakan bagian yang sangat I n t u i t i f dan mempunyai suatu K e p e k a a n mengenai hal tersebut.
Beliau bernama DR.Jose Silva, seorang turunan Mexico dan Indian kuno, dari bangsa Maya. Karena penyelidikan-penyelidikan mengenai fungsi otak, khususnya otak bagian Kanan, ia menemukan bahwa kemampuan manusia ternyata di-Ciptakan oleh YMS pada otak bagian Kanan dan bisa berfungsi, bila kita berada didalam suatu kondisi yang dinamakan ‘Nirsadar’ atau ‘bawah sadar’. Menurut ‘eksperimen-eksperimen-’nya, bila bagian Nirsadar kita di-‘bangunkan’ dengan arti disadarkan dengan tuntas melalui suatu cara <Pengendalian>, maka semua kemampuan manusia baru dapat dipergunakan yang hingga saat kini masih hanya merupakan suatu ‘impian’ belaka.
Dengan demikian, maka peran manusia untuk ‘mencetuskan suatu <Idea> atau <Gagasan> tidak lagi terbatas pada umur <fisik>, tapi terletak pada pengaturan bagian <non-fisik> kita. Ini yang dinamakannya bagian <Subyektif> manusia. Karena kita semua, sebagai makhluk, telah di-Ciptakan dari sumber <Subyektif>, maka menginsyafi hal itu kini menjadi sesuatu yang telah banyak diikuti oleh kurang lebih dari ‘duapuluh dua Juta alumni’ tersebar diseluruh dunia sejak tahun 1966. Kini diwakili oleh penunjukan guru-guru besar sebanyak k.l. 1000 orang pada 120 negara dan diantarkan di dalam 34 bahasa pengantar.
Meninjau kemajuan-kemajuan yang diakibatkan oleh ‘evolusi’ perkembangan manusia yang kini telah memasuki ‘tahap kedua’, maka bila kita semuanya dapat memanfaatkan pendidikan ‘subyektif-nya’ dari System Silva itu, MANULA akan pasti dapat berperan kembali sebagai semula, menjadi pendorong kemajuan lingkungan masyarakat luas. Ini teristimewa didalam ‘mempengaruhkan’ kemampuan yang selalu akan POSITIF, kepada mereka, yang kini sedang berkuasa, untuk mengalihkan pencetusan pikiran dari niat negatif menjadi positif.
Apakah sebenarnya ‘rahasia’ yang telah diungkapkan oleh DR.Jose Silva didalam penemuannya itu ? Pertama-tama kita harus mampu telak mengendalikan ‘kesabaran’, dan hal itu akan selalu bersama-sama dengan suatu kondisi <santai>, tapi bukanlah santai seperti yang dianut oleh kebanyakan orang. Kita merasa santai, biasanya, bila dapat melepaskan diri dari sesuatu kegiatan, baik fisik maupun mental. Oleh kebanyakan orang santai itu sebenarnya, bila dapat ‘mengalihkan’ suatu perhatian atau melepaskanya sehingga tidak lagi akan mengganggu pikiranya.
Hal itu kini menjadi suatu ‘trendi’ dengan banyaknya sistim-sistim yang berkembang untuk mencari cara-cara dengan b e n t u k yang sebenarnya, bagaimana dapat menimbulkan ‘kesantaian ’tersebut. Cara-caranya banyak sekali, tapi ternyata tidak pernah yang dikatakan bisa ‘langgeng’.. Kata yang menggunakan penemuan DR.Silva, yaitu <Pengendalian> dan <Mengendalikan> sesuatu, diatur melalui inti jiwa kita sendiri yang terletak pada pusat EGO serta FREE WILL yang kenyataannya mampu dibiasakan untuk mematangkan ‘pembiasaannya’ itu melalui ‘proses’ penggunaan teknik-teknik yang diselidiki dan dirangkum sedemikian rupa, sehingga hanya bertujuan untuk bisa mengendalikan <Imajinasi> dan <Visualisasi>. Dari sumber itu ternyata memberikan pegangan tuntas untuk ‘mengelola Nirsadar’ dengan hasil-hasil yang tak terduga semula !
Marilah penulis memberikan Anda sekalian suatu perumusan yang jitu, mudah dan efektif, untuk menyantaikan diri:
Duduklah dengan t e n a n g, disandarkan punggung kita pada sandaran kursi, kaki selonjor kemuka, tidak di’-silang’ satu dengan lainnya. Mata terbuka dan ‘bola mata’ diarahkan pada suatu kedudukan 20 derajat diatas pandangan ‘horisontal’ yang ‘melihat’ misalnya, bola tenis, dua meter didepan kita. Jari-jari dari kedua tangan di-‘sentuhkan’ satu dengan yang lain dan dipangkukan diantara kedua paha kita.
Kepala ditegakkan ‘lurus’ pada bahu. Imajinasikan kemudian angka “5”, yang menggantikan bola tenis tadi, pada tingkatan s a t u meter diatas kedudukan horisontal tadi, berkali-kali untuk kurang lebih 10 detik, dan kelopak mata dijaga jangan berkedip dulu. Kemudian tutuplah mata, dijaga bola mata tetap pada kedudukan semula, dan dibayangkan angka “4” kini beberapa kali. Dilanjutkan dengan me-imajinasikan angka 3.
Disini kita akan mengutamakan untuk memperhatikan dengan ‘me- r a s a- kan seluruh tubuh mulai dari ‘kulit kepala’ sampai pada ‘jari-jari kaki’. Telusurilah dengan perlahan-lahan, dan perhatikan setiap bagian tubuh fisik kita satu per satu. Setelah beberapa saat, kurang lebih 30 sampai 40 detik, maka bayangkan angka “2” kini beberapa kali.
Pada tingkatan ini, kita akan menikmati suatu ‘Pemandangan Alam’ yang dapat dipilih sendiri, dimana kita merasa diri kita berada disitu, dan bukan ‘melihat’ diri sendiri pada pemandangan alam ini. Laksanakan ‘imajinasi’ pemandangan alam itu selama 15 menit maksimal, aktifkan diri kita disitu. Bila nanti timbul angka 1 dengan sendirinya, atau bila anda mampu menimbulkan itu, maka Anda telah berada pada kondisi ‘Nirsadar’ serta merasakan kesantaian tuntas. Ingatkan diri, bagaimana perasaan kesantaian yang ditimbulkan pada kondisi Nirsadar ini. Ini sama dengan kondisi santai pada tingkatan atau kondisi GELOMBANG ALPHA.
Kemudian, setelah 15 menit, bayangkan kembali secara perlahan-lahan angka 1, kemudian ke angka 2, selanjutnya ke 3, 4 dan 5. Pada angka 5 itu bukalah mata dan katakan secara bathin pada diri sendiri: <Aku bangun segar, merasa nyaman dan dalam kesehatan sempurna> ! Lalu, janganlah langsung beranjak, tapi biarkanlah kesantaian itu meresap pada diri Anda untuk kira-kira 10 sampai 15 detik. Ini akan merupakan sesuatu yang Anda dapat laksanakan setiap hari 3 kali, yaitu pagi – siang dan sore hari. Bila menginginkan melatih pada malam hari, tidak ada masalah, silahkan saja sebelum masuk tidur.
Masih banyak sekali yang dapat diungkapkan mengenai penemuan baru ini, yang nama ilmiahnya adalah PSIKHORIENTOLOGI. Tapi suatu ketika, penulis ingin mengumpulkan para ’manula’ untuk mengikuti suatu ‘preview’ yang akan menjelaskan secara terperinci mengenai penemuan baru ini, yang sudah pasti akan memperluas wawasan kita, karena tidak lagi akan dibatasi oleh Ruang dan Waktu ! (Ijs)
H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method